8:33 PM
ANUGRAH CINTA DIPESANTREN Gadis cantik ini bernama nadira, dia tinggal di kota Jakarta. Kehidupannya sangat bebas, tetapi sebebas apapun ...
CERPEN "ANUGRAH CINTA DIPESANTREN"
CERPEN "ANUGRAH CINTA DIPESANTREN"
CERPEN "ANUGRAH CINTA DIPESANTREN"
8
10
99
ANUGRAH CINTA DIPESANTREN
Gadis cantik ini bernama nadira, dia tinggal di kota Jakarta. Kehidupannya sangat bebas, tetapi sebebas apapun dia, dia tidak pernah mencoba obat-obatan terlarang. Bukan kedua orang tuanya tidak perhatian kepada nadira, tetapi pergaulan nadira yang bebas membuat dia terjerumus kedunia yang membawa pengaruh buruk. Pada akhirnya kedua orang tua nadira pun terpaksa menitipkan nadira ke pesantren yang terdapat di daerah bandung.
Saat memasuki pesantren, banyak santri-santri yang memandang nadira dengan tatapan tajamnya, karena pakaian nadira yang tidak sesuai aturan di pesantren, tetapi semua itu nadira hiraukan. Pria yang berdiri disuatu ruangan berbadan gemuk,berjenggot putih memanggil nadira
“ukhti-ukhti kemari” ujar kiayi yang memanggil nadira dengan sebutan ukhti. Tampak bingung sedangkan tidak ada orang disekitarnya.
“saya kek? Kenalin kek nama saya nadira bukan ukhti” ujar nadira sambil bersalaman kepada kiayi tersebut.
“kata ukhti itu untuk memanggil seorang perempuan, ayu masuk nak.” Jawab kiayi dengan tersenyum manis dibibirnya. Di dalam ruangan tersebut ada dua wanita cantik yang mengenakan hijab. Mereka adalah Ambar dan Aliya.
“kenalkan nama saya ambar dan ini adik saya Aliya” ujar ambar yang memperkenalkan dirinya kepada nadira.
“ya terus ?? apa hubungannya sama gua” jawab nadira dengan kata-kata yang ketus.
“kamu itu bisa sopan tidak? Kamu ini sedang ada di hadapan pak kiayi selaku pemilik pesantren dan ka ambar pengurus pesantren disini” saut Alya yang sangat kesal sekali kepada nadira.
“ ohhh, jadi mereka? Pemilik dan pengurus pesantren ini? Dengar ya, saya itu gak mau dan gak pernah mau buat tinggal disini, kalo gak paksaan dari orang tua saya” jawab nadira dengan sangat emosi.
Alya pun menjawab omongan nadira dengan sangat emosi “memangnya kamu pikir pesantren ini mau nerima kamu, manusia badeur, gapunya tatak rama”
Susana didalam ruangan tersebut tampak sangat memanas dengan tegasnya ambar menenangkan situasi didalam ruangan tersebut.
“cukup-cukup, Alya kamu tidak boleh berkata seperti itu terhadap nadira! Kaka mohon kamu keluar sekarang” ujar ambar.
Alya pun meninggalkan ruangan tersebut dengan raut muka yang kesal.
Dan kiayi pun memberitahukan kepada nadira bahwa ambar yang akan membimbing dan mengajari dia selama tinggal di pesantren.
“ nadira ka ambar ini yang akan membimbing kamu dan mengajari kamu selama dipesantren ini” ujar kiayi. Setelah itu nadira pun diantarkan kekamarnya oleh ambar.
“nadira ini kamar kamu, kamu tidur di atas dan yang dibawah Alya. Disini kamu akan banyak sekali teman kok, jadi kamu tidak akan merasa kesepian.” Ucap ambar kepada nadira.
“what? Gasalah, kamar sesempit ini dan kasur sekecil ini? Gamau-gamau ini tuh namanya penghinaan buat gua” jawab nadira dengan menolak kamar tempat tidurnya selama dipesantren.
“ini bukan suatu penghinaan untuk kamu, setiap santriwati memang tidur disini, ini baju ka ambar pinjamkan dulu sementara untuk kamu. Cepat ganti nanti sore kita pengajian ke masjid” ambar pun meninggalkan nadira.
Baju muslim yang ambar berikan kepada nadira, sangat tidak disukainya. Dengan terpaksa nadira pun memaksakan dirinya dengan mengenakan baju tersebut, nadira pun kebingungan bagaimana cara mengenakan hijab. Maka demikian nadira menggantinya dengan menggunakan topi miliknya. Saat perjalanan menuju masjid nadira pun di senggol karena tidak sengaja yang lari terburu-buru oleh pria yang termasuk santri dipesantren tersebut peria itu hanya mengucap kata “maaf” sambil lari. Saat nadira berdiri peria tersebut sudah tidak ada.
“omg hello, gila ya tuh orang tolongin gua dulu ke ini malah langsung pergi. Orang-orang di pesantren pada aneh-aneh lama gua jadi ikutan aneh disini. Ini baru sehari gua disini, pokonya gimana caranya gua harus kabur dari sini” ujar nadira sambil berjalan menuju masjid.
Sesampainya di masjid ambar sangat shock melihat nadira dengan tampilannya yang mengenakan topi bukan hijab yang ambar berikan.
Ambar menghampiri nadira dan mengajak nadira keluar dari masjid lalu menuju kamar nadira. “nadira, kamu ini dipesantren, kamu harus mengenakan hijab bukan topi”.
“ka ambar itu ribet banget sihh, liat ka bagusan juga topi nadira, dari pada kain ini”
“sudah-sudah sini kaka pakaikan hijabnya” . beberapa menit kemudian nadira sudah rapih dan sangat cantik dengan hijab yang iya kenakan “ayu cepat nadira kita ke masjid” nadira dan ambar pun berjalan menuju masjid. Kegiatan kegiatan dipesantren membuat nadira sangat membosankan dia harus bangun tengah malam untuk melaksanakan sholat tahajud dan acara keagaaman lainnya. Sudah beribu cara nadira lakukan untuk kabur dari pesantren. Akan tetapi sosok ambar yang selalu mengetahui apabila nadira ingin pergi dari pesantren.
Sore itu nadira pergi ke taman kecil yang lingkungannya masih di area pesantren. Nadira menangis dengan mengatakan kalimat-kalimat soal perasaannya “mah,pah nadira gabetah disini. Dipesantren itu ribet banyak aturan, setiap hal yang nadira lakukan harus dimulai dengan bissmillah, doa-doa lah. Nadira gamau disini.” Sambil menangis ditaman. Lalu sesosok pria yang dulu menabrak nadira menghampiri nadira, dan memberikan tissue kepada nadira. Dan saat nadira melihat siapa yang memberikan tissue ternyata pria tersebut nadira pun marah-marah kepada pria tersebut.
“lo? Lo itu kan yang nabrak gua, ihh ngapain sih disini” ujar nadira dengan nada yang sangat kesal.
“maaf waktu itu saya sangat terburu-buru. Perkenalkan nama saya rizal. Jawab rizal dengan senyuman manisnya.
Pada akhirnya mereka pun berbincang-bincang di taman. Dan rizal laki-laki yang sangat tampan serta sholeh pun mampu membuat nadira menjadi wanita yang tidak pemarah lagi, lalu keesokan harinya rizalpun mengajak nadira ketempat diluar area pesantren yang sangat sejuk,indah dan banyak pohon-pohon hijau, bebatuan besar, serta terdapat air terjun. Rizal pun menyarankan nadira untuk mengungkapkan kekesalannya di tempat tersebut. Setelah itu rizal menyuruh bebas kemana pun iya inginkan. Karena selama ini nadira hanya ingin keluar dari pesantren.
“rizal lu aneh ya, kenapa lu suruh gua pergi dari sini?”.
“ini kan mau kamu nad? Pergi dari pesantren, pesantren itu tempat yang nyaman buat kamu, tempat yang mengajarkan kamu banyak ilmu tentang keaagamaan, mengajarkan kamu doa-doa sebelum melakukan aktifitas dan lain-lain”. Ujar rizal terhadap nadira.
“selama ini gua gapernah baca doa-doa dan basmallah pada saat gua melakukan aktifitas, saat gua makan, tidur, pergi keluar. Toh buktinya tanpa bissmillah dan doa-doa tersebut gua tetap hidup kan?”
“karena allah sayang sama kamu nadira, allah tidak pernah membeda-bedakan hambanya mana yang beriman, yang kafir, yang tidak taat. Allah selalu memberikan semuanya kepada hambanyanya.”
Dengan terpaksa rizal menceritakan kehidupannya sebelum iya ada di pesantren. Dari usia yang sangat dini rizal sudah hidup sendiri, merasakan dunia yang sangat kejam bahkan rizal pernah mencoba obat-obatan terlarang. Ketika iya sukhoi di jalanan kiayi membawa rizal ke pesantren dan merubah rizal menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnnya. Pada akhirnya nadirapun tersadar, ternyata dia adalah salah satu orang yang masih beruntung, memiliki orang tua yang sangat menyayanginya dan menitipkan dia ketempat yang akan membawa dia kejalan allah.
Menjelang sore rizal dan nadira pun kembali kepesantren. Sesampainya di pesantren sudah ada kedua orang tua nadira dan dua orang polisi yang langsung menangkap nadira.
“ada apa ini ? kenapa nadira di borgol? Nadira salah apa?” ucap nadira sambil menangis
“ka ambar bingung nad sama kamu, ka ambar selalu mengajarkan kamu dengan hal-hal yang baik! Ka ambar tidak pernah menyuruh kamu untuk mencuri nadira.” Ucap ambar dengan penuh rasa kekecewaan.
“ada apa ini sebenarnya ? nadira mencuri apa? Dari tadi nadira bersama saya” ucap rizal yang penuh kebingungan.
“nadira , mamah menitipkan kamu kesini untuk merubah kamu supaya kamu lebih baik bukannya kamu mencuri uang kas pesantren sejumlah Rp.20.000.000,00 . sudah pak saya ikhlas bawa nadira kepenjara, dia memang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.” Ucap mamah nadira yang mengira nadira sebagai pencurinya.
Semua orang pun menyalahkan nadira hanya rizal yang mempercayai nadira, bahwa nadira tidak bersalah. Dua hari nadira dipenjara mempertanggung jawabkan yang bukan kesalahannya, karena rizal lah yang selalu member nasihat kepada nadira untuk tetap tegar, sabar menghadapi semua ini. Allah selalu menunjukan jalan yang benar kepada umatnya.
Persaan curiga rizal tertuju kepada Aliya adik dari ambar, karena hanya dia satu-satunya orang yang bahagia melihat nadira masuk penjara. Pada akhirnya rizal memaksa aliya untuk mengaku siapa yang melakukannya, dengan tegas dan marah rizal mengucapkan kata-kata yang membuat aliya mengakui bahwa dialah yang sengaja mencuri uang kas pesantren sejumlah Rp.20.000.000,00 dan memasukannya kepada tas nadira. Dan pihak pesantren pun telah mengetahui bahwa aliya lah yang bersalah bukan nadira. Ambar segera menuju kantor polisi dengan beruraian air mata dan bersujud kepada nadira untuk meminta maaf agar adiknya dimaafkan oleh nadira.
“nadira ka ambar benar-benar mohon maaf kepada kamu, tolong jangan salahkan aliya, salahkan kaka. Aliya tidak salah apa-apa. Kaka yang salah, kaka yang tidak bisa mendidik adik kandung kaka sendiri, kaka mohon tempat aliya di pesantren bukan penjara”
“berdiri ka, nadira sudah memaafakan pelakunya sejak dari awal masuk penjara. Nadira selalu ingat kata-kata kaka, bahwa kita harus memaafkan kesalahan seseorang tanpa harus menyimpan dendam, karena allah tidak suka semua itu, dan nadira pun tidak akan menuntut kepada aliya. Mungkin ini memang cobaan yang allah berikan kepada nadira, nadira ikhlas ka!”
Semuanya kembali kepesantren dan aliya pun mengakui bahwa dia melakukan semua ini karena dia iri kepada nadira. Semua orang memperhatikannya termasuk ambar kaka kandungnya sendiri. Ternyata rizal yang dikenal sosok paling tampan dipesantren menyimpan perasaan kepada nadira dengan lantang saat kedua orang tua nadira ada di pesantren, kiayi,ambar dan aliya. Rizal mengatakan dengan mengucap bismillah dia ingin meminang nadira.
“nadira aku sudah lama memendam perasaan ku. Dengan kata bissmillah. Izinkan aku meminangmu dengan bissmillah”
Nadira pun bingung apa yang harus dia jawab.
“ayah menyetujuinya nak, dia sosok pria yang baik yang akan membimbingmu ke jalan allah” ujar ayah nadira.
“dengan bissmillah aku menerima mu rizal”
Ini kisah nadira. Kehidupaannya dijakarta yang membuat dia jadi anak yang tidak benar, karena pengaruh lingkungannya membuat nadira berubah drastis saat dia tinggal dipesantren, walaupun hidupnya penuh dengan cobaan, bahkan dinginnya penjarapun pernah iya rasakan tetapi berkat orang yang menyayangi nadira membuat dia semakin tegar menjalani hidupnya dan pada akhirnya pula nadira menemukan calon suami dambaan orangtua nadira.
TAMAT CIPT: IIM MAELANI
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments: