5:39 AM
Disusun oleh: Iim maelani Kelas: IX-7 Smp pgri 1 cibinong * ISI RESENSI Judul: LASKAR PELANGI Penulis: Andrea Hirata Penerb...
resensi
resensi
resensi
8
10
99
Disusun oleh: Iim
maelani
Kelas: IX-7
Smp pgri
1 cibinong
* ISI
RESENSI
Judul: LASKAR PELANGI
Penulis: Andrea
Hirata
Penerbit: Bentang
Kota tempat terbit:
Yogyakarta
Tahun terbit: 2007
Tebal halaman: 533
halaman
Harga: 69000,-
Kelebihan novel laskar pelangi
*kelebihannya buku
ini menceritakan persahabatan dan kesetia kawanan yang erat dan juga mencakup
pentingnya pendidikan yang begitu mendalam.
Serta kisahnya yang mengharukan.
Kekurangan novel laskar pelangi
*pengguna nama-nama ilmiah dalam cerita-ceritanya. Hal
ini membuat pembaca kurang nyaman dalam membaca. Alurnya yang tidak jelas.
Tidak seperti ayat-ayat cinta dengan
alur yang enak diikuti, cerita laskar pelangi ini alurnya dibolak-balik
Sehingga
membingungkan pembaca. Apalagi tidak disebutkan tahun berapakah tiap-tiap
peristiwa itu terjadi.
Kesimpulan
*Dari novel yang di
buat oleh Andre Hirata ini, saya dapat mengambil beberapa pelajaran hidup yang
penting, salah satunya kita harus benar-benar menghargai hidup, menghargai
semua pemberian Tuhan, tidak pantang menyerah bila menginginkan sesuatu, dan
tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita mau dan berusaha. Dan satu lagi,
pintar tidak menjamin kita untuk selalu sukses, seperti cerita pada tokoh
lintang, dia anak yang pintar, namun diakhir cerita dia menjadi seorang supir
truk, disini saya dapat mengambil kesimpulan, bahwa semua kehidupan manusia
sudah ada yang mengaturnya, yaitu Tuhan. Semua yang kita kerjakan tidak lepas
dari campuran
Bab1 10
Murid baru
PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku
duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Sebatang pohon tua yang
riang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku, memeluk pundakku dengan
kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada setiap orangtua dan
anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku panjang lain di depan
kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD. Di
ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu
miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di
mulut pintu berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu
dalam perhelatan. Mereka adalah seorang bapak tua berwajah
sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan
seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu
Mus. Seperti ayahku, mereka berdua juga tersenyum.
Namun, senyum Bu
Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak jelas beliau sedang
cemas. Wajahnya tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali
menghitung jumlah anak-anak yang duduk di bangku panjang. Ia
demikian khawatir sehingga tak peduli pada peluh yang mengalir masuk
ke pelupuk matanya. Titik-titik keringat yang bertimbulan di
seputar hidungnya menghapus bedak tepung beras yang dikenakannya, membuat
wajahnya coreng moreng seperti pameran emban bagi permaisuri dalam Dul
Muluk, sandiwara kuno kampung kami.
“Sembilan orang …
baru sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satu…,” katanya gusar pada
bapak kepala sekolah. Pak Harfan menatapnya kosong.
Aku juga merasa
cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus yang resah dan karena beban
perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah
pagi ini tapi lengan kasarnya yang melingkari leherku mengalirkan degup
jantung yang cepat. Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa
tak mudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun,
seorang buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil,
untuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih
mudah menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang
parut atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar
dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak
berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu
bukan perkara gampang bagi keluarga
kami.
“Kasihan ayahku …..
Pagi ini mereka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diri dari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak atau sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tuntutan memerdekakan anak dari buta huruf.
Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali seorang anak lelaki kecil kotor berambut keriting merah yang meronta-ronta dari pegangan ayahnya. Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku tak mengenal anak beranak itu.
Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya, yang duduk di pangkuan ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa. Kami bertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu belitong dari sebuah komunitas yang paling miskin di pulau itu. Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orangtua mendaftarkananaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak menetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orangtua hanya menyumbang sukarela semampu mereka. Kedua, karena firasat,- anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus mendapatkan pendadaran Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di sekolah mana pun.
Bu Mus yang semakin khawatir memancang pandangannya ke jalan raya di seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih ada pendaftar baru . Kami prihatin melihat harapan hampa itu. Maka tidak seperti suasana di SD lain yang penuh kegembiraan ketika menerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SD Muhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak Harfan.
Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya mendapat murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di Belitong ini harus ditutup. Karena itu sekarang Bu Mus dan Pak Harfan cemas sebab sekolah mereka akan tamat riwayatnya, sedangkan para orangtua cemas karena biaya, dan kami, sembilan anak-anak kecil ini yang terperangkap di tengah cemas kalau- kalau kami tak jadi sekolah.
Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh. Maka diam-diam beliau telah mempersiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orangtua muridpada kesempatan pagi ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk memenuhi target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati.
“Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan seluruh orangtua yang telah pasrah. Suasana hening.
Para orang tua mungkin menganggap kekurangan satu murid sebagai pertanda bagi anak-anaknya bahwa mereka memang sebaik nya didaftarkan pada para juragan saja. Sedangkan aku dan agaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sekolah tua yang tutup justru pada hari pertama kami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat kami untuk belajar tapi tinggal selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan satu
murid. Kami menunduk dalam-dalam.
Saat itu sudah pukul sebelas kurang lima dan Bu Mus semakin gundah. Lima tahun pengabdiannya di sekolah melarat yang amat ia cintai dan tiga puluh dua tahun pengabdian tanpa pamrih pada Pak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu ini.
“Baru sembilan orang Pamanda Guru …,” ucap Bu Mus bergetar sekali lagi. Ia sudah tak bisa berpikir jernih. Ia berulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah diketahui semua orang. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.
Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima dan jumlah murid tak juga genap sepuluh. Semangat besarku untuk sekolah perlahan lahan runtuh. Aku melepaskan lengan ayahku dari pundakku. Sahara menangis terisak-isak mendekap ibunya karena ia benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai sepatu, kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku, botol air minum, dan tas punggung yang semuanya baru.
Pak Harfan menghampiri orangtua murid dan menyalami mereka satu per satu. Sebuah pemandangan yang pilu. Para orangtua menepuk-nepuk bahunya untuk membesarkan hatinya. Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putus
asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu.
“Harun!.
Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria kurus tinggi berjalar terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnya sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang putih yang dimasukkan ke dalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf x sehingga jika berjalan seluruh tubuhnya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanita gemuk setenga baya yang berseri-seri susah payah memeganginya. Pria itu adalah Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudah berusia lima belas tahun dan agak terbelakang mentalnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampiri kami. Ia tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk kewalahan menggandeng-nya.
Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan
Pak Harfan.
“Bapak Guru …, ” kata ibunya terengah-engah.
“Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkannya ke sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia disekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar -ngejar anak-anak ayamku ….
Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning panjang-panjang. Pak Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mus sambil mengangkat bahunya.
“Genap sepuluh orang …,” katanya.
Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak. Sahara berdiri tegak merapikan lipatan jilbabnya & menyandang tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk lagi.
Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras
“Kasihan ayahku …..
Pagi ini mereka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diri dari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak atau sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tuntutan memerdekakan anak dari buta huruf.
Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali seorang anak lelaki kecil kotor berambut keriting merah yang meronta-ronta dari pegangan ayahnya. Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku tak mengenal anak beranak itu.
Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya, yang duduk di pangkuan ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa. Kami bertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu belitong dari sebuah komunitas yang paling miskin di pulau itu. Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orangtua mendaftarkananaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak menetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orangtua hanya menyumbang sukarela semampu mereka. Kedua, karena firasat,- anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus mendapatkan pendadaran Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di sekolah mana pun.
Bu Mus yang semakin khawatir memancang pandangannya ke jalan raya di seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih ada pendaftar baru . Kami prihatin melihat harapan hampa itu. Maka tidak seperti suasana di SD lain yang penuh kegembiraan ketika menerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SD Muhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak Harfan.
Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya mendapat murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di Belitong ini harus ditutup. Karena itu sekarang Bu Mus dan Pak Harfan cemas sebab sekolah mereka akan tamat riwayatnya, sedangkan para orangtua cemas karena biaya, dan kami, sembilan anak-anak kecil ini yang terperangkap di tengah cemas kalau- kalau kami tak jadi sekolah.
Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh. Maka diam-diam beliau telah mempersiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orangtua muridpada kesempatan pagi ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk memenuhi target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati.
“Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan seluruh orangtua yang telah pasrah. Suasana hening.
Para orang tua mungkin menganggap kekurangan satu murid sebagai pertanda bagi anak-anaknya bahwa mereka memang sebaik nya didaftarkan pada para juragan saja. Sedangkan aku dan agaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sekolah tua yang tutup justru pada hari pertama kami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat kami untuk belajar tapi tinggal selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan satu
murid. Kami menunduk dalam-dalam.
Saat itu sudah pukul sebelas kurang lima dan Bu Mus semakin gundah. Lima tahun pengabdiannya di sekolah melarat yang amat ia cintai dan tiga puluh dua tahun pengabdian tanpa pamrih pada Pak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu ini.
“Baru sembilan orang Pamanda Guru …,” ucap Bu Mus bergetar sekali lagi. Ia sudah tak bisa berpikir jernih. Ia berulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah diketahui semua orang. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.
Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima dan jumlah murid tak juga genap sepuluh. Semangat besarku untuk sekolah perlahan lahan runtuh. Aku melepaskan lengan ayahku dari pundakku. Sahara menangis terisak-isak mendekap ibunya karena ia benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai sepatu, kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku, botol air minum, dan tas punggung yang semuanya baru.
Pak Harfan menghampiri orangtua murid dan menyalami mereka satu per satu. Sebuah pemandangan yang pilu. Para orangtua menepuk-nepuk bahunya untuk membesarkan hatinya. Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putus
asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu.
“Harun!.
Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria kurus tinggi berjalar terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnya sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang putih yang dimasukkan ke dalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf x sehingga jika berjalan seluruh tubuhnya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanita gemuk setenga baya yang berseri-seri susah payah memeganginya. Pria itu adalah Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudah berusia lima belas tahun dan agak terbelakang mentalnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampiri kami. Ia tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk kewalahan menggandeng-nya.
Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan
Pak Harfan.
“Bapak Guru …, ” kata ibunya terengah-engah.
“Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkannya ke sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia disekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar -ngejar anak-anak ayamku ….
Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning panjang-panjang. Pak Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mus sambil mengangkat bahunya.
“Genap sepuluh orang …,” katanya.
Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak. Sahara berdiri tegak merapikan lipatan jilbabnya & menyandang tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk lagi.
Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras
Bab2 Antediluvium
IBU Muslimah yang beberapa menit lalu sembab, gelisah, dan coreng-moreng kini menjelma menjadi sekuntum Crinum giganteum. Sebab tiba-tiba ia mekar sumringah dan posturnya yang jangkung persis tangkai bunga itu. Kerudungnya juga berwarna bunga crinum demikian pula bau bajunya, persis crinum yang mirip bau vanili. Sekarang dengan ceria beliau mengatur tempat duduk kami. Bu Mus mendekati setiap orangtua murid di bangku panjang tadi, berdialog sebentar dengan ramah, dan mengabsen kami. Semua telah masuk ke dalam kelas, telah mendapatkan teman sebangkunya masing-masing, kecuali aku dan anak laki-laki kecil kotor berambut keriting merah yang tak kukenal tadi. Ia tak bisa tenang. Anak ini berbau hangus seperti karet terbakar.
IBU Muslimah yang beberapa menit lalu sembab, gelisah, dan coreng-moreng kini menjelma menjadi sekuntum Crinum giganteum. Sebab tiba-tiba ia mekar sumringah dan posturnya yang jangkung persis tangkai bunga itu. Kerudungnya juga berwarna bunga crinum demikian pula bau bajunya, persis crinum yang mirip bau vanili. Sekarang dengan ceria beliau mengatur tempat duduk kami. Bu Mus mendekati setiap orangtua murid di bangku panjang tadi, berdialog sebentar dengan ramah, dan mengabsen kami. Semua telah masuk ke dalam kelas, telah mendapatkan teman sebangkunya masing-masing, kecuali aku dan anak laki-laki kecil kotor berambut keriting merah yang tak kukenal tadi. Ia tak bisa tenang. Anak ini berbau hangus seperti karet terbakar.
“Anak Pak Cik akan
sebangku dengan Lintang,” kata Bu Mus pada ayahku
Oh, itulah rupanya namanya, Lintang, sebuah nama yang aneh.
Mendengar keputusan itu Lintang meronta-ronta ingin segera masuk kelas. Ayahnya berusaha keras menenangkannya, tapi ia memberontak, menepis pegangan ayahnya, melonjak, dan menghambur ke dalam kelas mencari bangku kosongnya sendiri. Di bangku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girang tak alang kepalang, tak mau turun lagi. Ayah nya telah melepaskan belut yang licin itu, dan anaknya baru saja meloncati nasib, merebut pendidikan.
Oh, itulah rupanya namanya, Lintang, sebuah nama yang aneh.
Mendengar keputusan itu Lintang meronta-ronta ingin segera masuk kelas. Ayahnya berusaha keras menenangkannya, tapi ia memberontak, menepis pegangan ayahnya, melonjak, dan menghambur ke dalam kelas mencari bangku kosongnya sendiri. Di bangku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girang tak alang kepalang, tak mau turun lagi. Ayah nya telah melepaskan belut yang licin itu, dan anaknya baru saja meloncati nasib, merebut pendidikan.
Keluarga Lintang
berasal dari Tanjong Kelumpang, desa nun jauh di pinggir laut. Menuju
kesana harus melewati empat kawasan pohon nipah, tempat berawa-rawa yang
dianggap seram di kampung kami. Selainitu di sana juga tak jarang buaya
sebesar pangkal pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu
secara geografis dapat dikatakan sebagai wilayah paling timur di
Sumatra, daerah minus nun jauh masuk ke pedalaman Pulau Belitong.
Bagi Lintang, kota kecamatan, tempat sekolah kami ini,
adalah metropolitan yang harus ditempuh dengan sepeda sejak subuh.
Ah! Anak sekecil itu ….
Ketika aku menyusul Lintang kedalam kelas ia menyalamiku dengan kuat seperti pegangan tangan calon mertua yang menerima pinangan. Energi yang berlebihan di tubuhnya serta-merta menjalar padaku laksana tersengat listrik. Ia berbicara tak henti- henti penuh minat dengan dialek Belitong yang lucu, tipikal orang Belitong pelosok. Bola matanya bergerak-gerak cepat dan menyala-nyala. Ia seperti pilea, bunga meriam itu, yang jika butiran air jatuh di atas daunnya, ia melontarkan tepung sari, semarak, spontan, mekar, dan penuh daya hidup. Di dekatnya, aku merasa seperti ditantang mengambil ancang-ancang untuk sprint seratus meter. Sekencang apa engkau berlari? Begitulah makna tatapannya.
Aku sendiri masih bingung. Terlalu banyak perasaan untuk ditanggung seorang anak kecil dalam waktu demikian singkat. Cemas, senang, gugup, malu, teman baru, guru baru … semuanya bercampur aduk. Ditambah lagi satu perasaan ngilu karena sepasang sepatu baru yang dibelikan ibuku. Sepatu ini selalu kusembunyikan ke belakang. Aku selalu menekuk lututku karena warna sepatu itu hitam bergaris-garis putih maka ia tampak seperti sepatu sepak bola, jelek sekali. Bahannya pun dari plastik yang keras. Abang-abangku sakit perut menahan tawa melihat sepatu itu waktu kami sarapan pagi tadi. Tapi pandangan ayahku menyuruh mereka bungkam, membuat perut mereka k aku. Kakiku sakit dan hatiku malu dibuat sepatu ini.
Sementara itu, kepala Lintang terus berputar-putar seperti burung hantu. Baginya, penggaris kayu satu meter, vas bunga tanah liat hasil prakarya anak kelas enam di atas meja Bu Mus, papan tulis lusuh, dan kapur tumpul yang berserakan di atas lantai kelas yang sebagian telah menjadi tanah, adalah benda-benda yang menakjubkan.
Kemudian kulihat lagi pria cemara anginitu. Melihat anaknya demikian bergairah ia tersenyum getir. Aku mengerti bahwa pira yang tak tahu tanggal dan bulan kelahirannya itu gamang membayangkan kehancuran hati anaknya jika sampai drop out saat kelas dua atau tiga SMP nanti karena alasan klasik: biaya atau tuntutan nafkah. Bagi beliau pendidikan adalah enigma, sebuah misteri. Dari empat garis generasi yang diingatnya, baru Lintang yang sekolah. Generasi kelima sebelumnya adalah masa antediluvium, suatu masa yang amat lampau ketika orang-orang Melayu masih berkelana sebagai nomad. Mereka berpakaian kulit
kayu dan menyembah bulan.
UMUMNYA Bu Mus mengelompokkan tempat duduk kami berdasarkan kemiripan. Aku dan Lintang sebangku karena kami sama-sama berambut ikal. Trapani duduk dengan Mahar karena mereka berdua paling tampan. Penampilan mereka seperti para penaltun irama semenanjung idola orang Melayu pedalaman.
Trapani tak tertarik dengan kelas, ia mencuri-curi pandang ke jendela, melirik kepala ibunya yang muncul sekali-sekali di antara kepala orangtua lainnya.
Baru beberapa saat di kelas Borek sudah mencoreng muka Kucai dengan penghapus papan tulis. Tingkah ini diikuti Sahara yang sengaja menumpahkan air minum A Kiong sehingga anak Hokian itu menangis sejadi-jadinya seperti orang ketakutan dipeluk setan. N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah, gadis kecil berkerudung itu, memang keras kepala luar biasa. Kejadian itu menandai perseteruan mereka yang akan berlangsung akut bertahun-tahun. Tangisan A Kiong nyaris merusak acara perkenalan yang menyenangkan pagi itu. Sebaliknya, bagiku pagi itu adalah pagi yang tak terlupakan sampai puluhan tahun mendatang karena pagi itu aku melihat Lintang dengan canggung menggenggam sebuah pensil besar yang belum diserut seperti memegang sebilah belati. Ayahnya pasti telah keliru membeli pensil karena pensil itu memiliki warna yang berbeda di kedua ujungnya. Salah satu ujungnya berwarna merah dan ujung lainnya biru. Bukankah pensil semacam itu dipakai para tukang jahit untuk menggaris kain? Atau para tukang sol sepatu untuk membuat garis pola pada permukaan kulit? Sama sekali bukan untuk menulis.
Buku yang dibeli juga keliru. Buku bersampul biru tua itu bergaris tiga. Bukankah buku semacam itu baru akan kami pakai nanti saat kelas dua untuk pelajaran menulis rangkai indah? Hal yang tak akan pernah kulupakan adalah bahwa pagi itu aku menyaksikan seorang anak pesisir melarat—teman sebangku—untuk pertama kalinya memegang pensil dan buku, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya, setiap apa pun yang ditulisnya merupakan buah pikiran yang gilang gemilang, karena nanti ia—seorang anak miskin pesisir—akan menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskinini sebab ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur hidupku.
Ketika aku menyusul Lintang kedalam kelas ia menyalamiku dengan kuat seperti pegangan tangan calon mertua yang menerima pinangan. Energi yang berlebihan di tubuhnya serta-merta menjalar padaku laksana tersengat listrik. Ia berbicara tak henti- henti penuh minat dengan dialek Belitong yang lucu, tipikal orang Belitong pelosok. Bola matanya bergerak-gerak cepat dan menyala-nyala. Ia seperti pilea, bunga meriam itu, yang jika butiran air jatuh di atas daunnya, ia melontarkan tepung sari, semarak, spontan, mekar, dan penuh daya hidup. Di dekatnya, aku merasa seperti ditantang mengambil ancang-ancang untuk sprint seratus meter. Sekencang apa engkau berlari? Begitulah makna tatapannya.
Aku sendiri masih bingung. Terlalu banyak perasaan untuk ditanggung seorang anak kecil dalam waktu demikian singkat. Cemas, senang, gugup, malu, teman baru, guru baru … semuanya bercampur aduk. Ditambah lagi satu perasaan ngilu karena sepasang sepatu baru yang dibelikan ibuku. Sepatu ini selalu kusembunyikan ke belakang. Aku selalu menekuk lututku karena warna sepatu itu hitam bergaris-garis putih maka ia tampak seperti sepatu sepak bola, jelek sekali. Bahannya pun dari plastik yang keras. Abang-abangku sakit perut menahan tawa melihat sepatu itu waktu kami sarapan pagi tadi. Tapi pandangan ayahku menyuruh mereka bungkam, membuat perut mereka k aku. Kakiku sakit dan hatiku malu dibuat sepatu ini.
Sementara itu, kepala Lintang terus berputar-putar seperti burung hantu. Baginya, penggaris kayu satu meter, vas bunga tanah liat hasil prakarya anak kelas enam di atas meja Bu Mus, papan tulis lusuh, dan kapur tumpul yang berserakan di atas lantai kelas yang sebagian telah menjadi tanah, adalah benda-benda yang menakjubkan.
Kemudian kulihat lagi pria cemara anginitu. Melihat anaknya demikian bergairah ia tersenyum getir. Aku mengerti bahwa pira yang tak tahu tanggal dan bulan kelahirannya itu gamang membayangkan kehancuran hati anaknya jika sampai drop out saat kelas dua atau tiga SMP nanti karena alasan klasik: biaya atau tuntutan nafkah. Bagi beliau pendidikan adalah enigma, sebuah misteri. Dari empat garis generasi yang diingatnya, baru Lintang yang sekolah. Generasi kelima sebelumnya adalah masa antediluvium, suatu masa yang amat lampau ketika orang-orang Melayu masih berkelana sebagai nomad. Mereka berpakaian kulit
kayu dan menyembah bulan.
UMUMNYA Bu Mus mengelompokkan tempat duduk kami berdasarkan kemiripan. Aku dan Lintang sebangku karena kami sama-sama berambut ikal. Trapani duduk dengan Mahar karena mereka berdua paling tampan. Penampilan mereka seperti para penaltun irama semenanjung idola orang Melayu pedalaman.
Trapani tak tertarik dengan kelas, ia mencuri-curi pandang ke jendela, melirik kepala ibunya yang muncul sekali-sekali di antara kepala orangtua lainnya.
Baru beberapa saat di kelas Borek sudah mencoreng muka Kucai dengan penghapus papan tulis. Tingkah ini diikuti Sahara yang sengaja menumpahkan air minum A Kiong sehingga anak Hokian itu menangis sejadi-jadinya seperti orang ketakutan dipeluk setan. N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah, gadis kecil berkerudung itu, memang keras kepala luar biasa. Kejadian itu menandai perseteruan mereka yang akan berlangsung akut bertahun-tahun. Tangisan A Kiong nyaris merusak acara perkenalan yang menyenangkan pagi itu. Sebaliknya, bagiku pagi itu adalah pagi yang tak terlupakan sampai puluhan tahun mendatang karena pagi itu aku melihat Lintang dengan canggung menggenggam sebuah pensil besar yang belum diserut seperti memegang sebilah belati. Ayahnya pasti telah keliru membeli pensil karena pensil itu memiliki warna yang berbeda di kedua ujungnya. Salah satu ujungnya berwarna merah dan ujung lainnya biru. Bukankah pensil semacam itu dipakai para tukang jahit untuk menggaris kain? Atau para tukang sol sepatu untuk membuat garis pola pada permukaan kulit? Sama sekali bukan untuk menulis.
Buku yang dibeli juga keliru. Buku bersampul biru tua itu bergaris tiga. Bukankah buku semacam itu baru akan kami pakai nanti saat kelas dua untuk pelajaran menulis rangkai indah? Hal yang tak akan pernah kulupakan adalah bahwa pagi itu aku menyaksikan seorang anak pesisir melarat—teman sebangku—untuk pertama kalinya memegang pensil dan buku, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya, setiap apa pun yang ditulisnya merupakan buah pikiran yang gilang gemilang, karena nanti ia—seorang anak miskin pesisir—akan menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskinini sebab ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur hidupku.
Bab3
Inisiasi
TAK susah melukiskan sekolah
kami, karena sekolah kami adalah salah satu dari ratusan
atau mungkin ribuan sekolah
miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol sedikit
saja oleh kambing yang
senewen ingin kawin, bisa rubuh berantakan.
Kami memiliki enam kelas
kecil-kecil, pagi untuk SD Muhammadiyah dan sore
untuk SMP Muhammadiyah. Maka
kami, sepuluh siswa baru ini bercokol selama
sembilan tahun di sekolah
yang sama dan kelas-kelas yang sama, bahkan susunan kawan
sebangku pun tak berubah
selama sembilan tahun SD dan SMP itu.
Kami kekurangan guru dan
sebagian besar siswa SD Muhammadiyah ke sekolah
memakai sandal. Kami bahkan
tak punya seragam. Kami juga tak punya kotak P3K. Jika
kami sakit, sakit apa pun:
diare, bengkak, batuk, flu, atau gatal-gatal maka guru kami
akan memberikan sebuah pil
berwarna putih, berukuran besar bulat seperti kancing jas
hujan, yang rasanya sangat
pahit. Jika diminum kita bisa merasa kenyang. Pada pil itu
ada tulisan besar APC. Itulah
pil APC yang legendaris di kalangan rakyat pinggiran
Belitong. Obat ajaib yang
bisa menyembuhkan segala rupa penyakit.
Sekolah Muhammadiyah tak
pernah dikunjungi pejabat, penjual kaligrafi,
pengawas sekolah, apalagi
anggota dewan. Yang rutin berkunjung hanyalah seorang pria
yang berpakaian seperti
ninja. Di punggungnya tergantung sebuah tabung aluminium
besar dengan slang yang
menjalar ke sana kemari. Ia seperti akan berangkat ke bulan.
Pria ini adalah utusan dari
dinas kesehatan yang menyemprot sarang nyamuk dengan
DDT. Ketika asap putih tebal
mengepul seperti kebakaran hebat, kami pun bersoraksorak
kegirangan.
Sekolah kami tidak dijaga
karena tidak ada benda berharga yang layak dicuri.
Satu-satunya benda yang
menandakan bangunan itu sekolah adalah sebatang tiang
bendera dari bambu kuning dan
sebuah papan tulis hijau yang tergantung miring di dekat
lonceng. Lonceng kami adalah
besi bulat berlubang-lubang bekas tungku. Di papan tulis
itu terpampang gambar
matahari dengan garis-garis sinar berwarna putih. Di tengahnya
tertulis:
SD MD
Sekolah Dasar Muhammadiyah
Lalu persis di bawah mathari
tadi tertera huruf-huruf arab gundul yang nanti
setelah kelas dua, setelah
aku pandai membaca huruf arab, aku tahu bahwa tulisan itu
berbunyi amar makruf nahi
mungkar artinya :menyuruh kepada yang makruf dan
mencegah dari yang mungkar”.
Itulah pedoman utama warga Muhammadiyah. Kata-kata
itu melekat dalam kalbu kami
sampai dewasa nanti. Kata-kata yang begitu kami kenal
seperti kami mengenal bau
alami ibu-ibu kami.
Jika dilihat dari jauh
sekolah kami seolah akan tumpah karena tiang-tiang kayu
yang tua sudah tak tegak
menahan atap sirap yang berat. Maka sekolah kami sangat mirip
gudang kopra. Konstruksi
bangunan yang menyalahi prinsip arsitektur ini menyebabkan
tak ada daun pintu dan jendela
yang bisa dikunci karena sudah tidak simetris dengan
rangka kusennya. Tapi buat
apa pula dikunci?
Di dalam kelas kami tidak
terdapat tempelan poster operasi kali-kalian seperti
umumnya terdapat di
kelas-kelas sekolah dasar. Kami juga tidak memiliki kalender dan
tak ada gambar presiden dan
wakilnya, atau gambar seekor burung aneh berekor delapan
helai yang selalu menoleh ke
kanan itu. Satu-satunya tempelan di sana adalah sebuah
poster, persis di belakang
meja Bu Mus untuk menutupi lubang besar di dinding papan.
Poster itu memperlihatkan
gambar seorang pria berjenggot lebat, memakai jubah, dan ia
memegang sebuah gitar penuh
gaya. Matanya sayu tapi meradang, seperti telah
mengalami cobaan hidup yang
mahadahsyat. Dan agaknya ia memang telah bertekad
bulat melawan segala bentuk
kemaksiatan di muka bumi. Di dalam gambar tersebut sang
pria tadi melongok ke langit
dan banyak sekali uang-uang kertas serta logam berjatuhan
menimpa wajahnya. Di bagian
bawah poster itu terdapat dua baris kalimat yang tak
kupahami. Tapi nanti setelah
naik ke kelas dua dan sudah pintar membaca, aku mengerti
bunyi
kedua kalimat itu adalah: RHOMA IRAMA, HUJAN DUIT!
Pak Harfan, seperti halnya
sekolah ini, tak susah digambarkan. Kumisnya tebal,
cabangnya tersambung pada
jenggot lebat berwarna kecokelatan yang kusam dan
beruban. Hemat kata, wajahnya
mirip Tom Hanks, tapi hanya Tom Hanks di dalam film
di mana ia terdampar di
sebuah pulau sepi, tujuh belas bulan tidak pernah bertemu
manusia dan mulai berbicara
dengan sebuah bola voli. Jika kita bertanya tentang
jenggotnya yang awut-awtuan,
beliau tidak akan repot-repot berdalih tapi segera
menyodorkan sebuah buku karya
Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandhallawi Rah,
R.A. yang berjudul Keutamaan
Memelihara Jenggot. Cukup membaca pengantarnya saja
Anda akan merasa malu sudah
bertanya.
K.A. pada nama depan Pak
Harfan berarti Ki Agus. Gelar K.A. mengalir dalam
garis laki-laki silsilah
Kerajaan Belitong. Selama puluhan tahun keluarga besar yang amat
bersahaja ini berdiri pada
garda depan pendidikan di sana. Pak Harfan telah puluhan
tahun mengabdi di sekolah
Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apa pun demi motif
syiar Islam. Beliau
menghidupi keluarga dari sebidang kebun palawija di pekarangan
rumahnya.
Hari ini Pak Harfan
mengenakan baju takwa yang dulu pasti berwarna hijau tapi
kini warnanya pudar menjadi
putih. Bekas-bekas warna hijau masih kelihatan di baju itu.
Kaus dalamnya berlubang di
beberapa bagian dan beliau mengenakan celana panjang
yang lusuh karena terlalu
sering dicuci. Seutas ikat pinggang plastik murahan bermotif
ketupat melilit tubuhnya.
Lubang ikat pinggang itu banyak berderet-deret, mungkin telah
dipakai sejak beliau berusia
belasan.
Karena penampilan Pak Harfan
agak seperti beruang madu maka ketika pertama
kali melihatnya kami merasa
takut. Anak kecil yang tak kuat mental bisa-bisa langsung
terkena sawan. Namun, ketika
beliau angkat bicara, tak dinyana, meluncurlah mutiaramutiara
nan puitis sebagai prolog
penerimaan selamat datang penuh atmosfer sukacita di
sekolahnya yang sederhana.
Kemudian dalam waktu yang amat singkat beliau telah
merebut hati kami. Bapak yang
jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita tentang
perahu Nabi Nuh serta
pasangan-pasangan binatang yang selamat dari banjir bandang.
“Mereka yang ingkar telah
diingatkan bahwa air bah akan datang …,” demikian
ceritanya dengan wajah penuh
penghayatan.
“Namun, kesombongan
membutakan mata dan menulikan telinga mereka, hingga
mereka musnah dilamun ombak ….”
Sebuah kisah yang sangat
mengesankan. Pelajaran moral pertama bagiku: jika tak
rajin sahalat maka
pandai-pandailah berenang.
Cerita selanjutnya sangat
memukau. Sebuah cerita peperangan besar zaman
Rasulullah di mana kekuatan
dibentuk oleh iman bukan oleh jumlah tentara: perang
Badar! Tiga ratus tiga belas
tentara Islam mengalahkan ribuan tentara Quraisy yang kalap
dan bersenjata lengkap.
“Ketahuilah wahai keluarga
Ghudar, berangkatlah kalian ke tempat-tempat
kematian kalian dalam masa
tiga hari!” Demikian Pak Harfan berteriak lantang sambil
menatap langit melalui
jendela kelas kami. Beliau memekikkan firasat mimpi seorang
penduduk Mekkah, firasat
kehancuran Quraisy dalam kehebatan perang Badar.
Mendengar teriakan itu
rasanya aku ingin melonjak dari tempat duduk. Kami
ternganga karena suara Pak
Harfan yang berat menggetarkan benang-benang halus dalam
kalbu kami. Kami menanti liku
demi liku cerita dalam detik-detik menegangkan dengan
dada berkobar-kobar ingin
membela perjuangan para penegak Islam. Lalu Pak Harfan
mendinginkan suasana yang
berkisah tentang penderitaan dan tekanan yang dialami
seorang pria bernama Zubair
bin Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah
payah, seperti kesulitan
Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah, mendirikan sekolah
dari jerjak kayu bulat
seperti kandang. Itulah sekolah pertama di Belitong. Kemudian
muncul para tokoh seperti
K.A. Abdul Hamid dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban
habis-habisan melanjutkan
sekolah kandang itu menjadi sekolah Muhammadiyah.
Sekolah
ini adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bahkan mungkin di Sumatra
selatan.
Ketika mengajukan pertanyaan
beliau berlari-lari kecil mendekati kami, menatap
kami penuh arti dengan
pandangan matanya yang teduh seolah kami adalah anak-anak
Melayu yang paling berharga.
Lalu membisikkan sesuatu di telinga kami, menyitir
dengan lancar ayat-ayat suci,
menantang pengetahuan kami, berpantun, membelai hati
kami dengan wawasan ilmu,
lalu diam, diam berpikir seperti kekasih merindu, indah
sekali.
Beliau menorehkan benang
merah kebenaran hidup yang sederhana melalui katakatanya
yang ringan namun bertenaga
seumpama titik-titik air hujan. Beliau
mengobarkan semangat kami
utnuk belajar dan membuat kami tercengang dengan
petuahnya tentang keberanian
pantang menyerah melawan kesulitan apa pun. Pak Harfan
memberi kami pelajaran
pertama tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan,
tentang keinginan kuat untuk
mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup
bisa demikian bahagia dalam
keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban
untuk sesama. Lalu beliau
menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap
jauh ke dalam dadaku serta
memberi arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah
untuk memberi
sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya. Kami tak berkedip
menatap sang juru kisah yang ulung ini. Pria ini buruk rupa
dan buruk pula setiap apa
yang disandangnya, tapi pemikirannya jernih dan kata-katanya
bercahaya. Kelas diambil alih
oleh Bu Mus. Acaranya adalah perkenalan dan akhirnya tibalah
giliran A Kiong. Tangisnya
sudah reda tapi ia masih terisak. Ketika diminta ke depan
kelas ia senang bukan main.
Sekarang di sela-sela isaknya ia tersenyum. Ia menggoyanggoyangkan
tubuhnya. Tangan kirinya
memegang botol air yang kosong—karena isinya
tadi ditumpahkan Sahara—dan
tangan kanannya menggenggam kuat tutup botol itu.
“Silahkan ananda perkenalkan
nama dan alamat rumah …,” pinta Bu Mus lembut
pada anak Hokian itu.
A Kiong menatap Bu Mus dengan
ragu kemudian ia kembali tersenyum.
Bapaknya menyeruak di antara
kerumunan orangtua lainnya, ingin menyaksikan anaknya
beraksi. Namun, meskipun
berulang kali ditanya A Kiong tidak menjawab sepatah kata
pun. Ia terus tersenyum dan
hanya tersenyum saja.
“Silakan ananda …,” Bu Mus
meminta sekali lagi dengan sabar.
Namun sayang A Kiong hanya
menjawabnya dengan kembali tersenyum. Ia
berkali-kali melirik bapaknya
yang kelihatan tak sabar. Aku dapat membaca pikiran
ayahnya, “Ayolah anakku,
kuatkan hatimu, snama bapakmu ini, sekali saja! Jangan bikin malu orang Hokian!”
Bapak Tionghoa
berwajah ramah ini dikenal
sebagai seorang Tionghoa kebun, strata ekonomi terendah
dalam kelas sosial
orang-orang Tionghoa di Belitong.
Namun, sampai waktu akan berakhir
A Kiong masih tetap saja tersenyum. Bu
Mus membujuknya lagi.
“Baiklah ini kesempatan
terakhir untukmu mengenalkan diri, jika belum bersedia
maka harus kembali ke tempat
duduk.”
A Kiong malah semakin senang.
Ia masih sama sekali tak menjawab. Ia
tersenyum lebar, matanya yang
sipit menghilang. Pelajaran moral nomor dua: jangan
tanyakan nama dan alamat pada
orang yang tinggal di kebun. Maka berakhirlah
perkenalan di bulan Februari
yang mengesankan itu.
Bab4
perempuan” perkasa
AKU pernah membaca kisah
tentang wanita yang membelah batu karang untuk
mengalirkan air, wanita yang
menenggelamkan diri belasan tahun sendirian di tengah
rimba untuk menyelamatkan
beberapa keluarga orang utan, atau wanita yang berani
mengambil risiko tertular
virus ganas demi menyembuhkan penyakit seorang anak yang
sama sekali tak dikenalnya
nun jauh di Somalia. Di sekolah Muhammadiyah setiap hari
aku membaca keberanian
berkorban semacam itu di wajah wanita muda ini.
N.A. Muslimah Hafsari Hamid
binti K.A. Abdul Hamid, atau kami
memanggilnya Bu Mus, hanya
memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah Kepandaian
Putri), namun beliau bertekad
melanjutkan cita-cita ayahnya—K.A. Abdul Hamid,
pelopor sekolah Muhammadiyah
di Belitong—untuk terus mengobarkan pendidikan
Islam. Tekad itu memberinya
kesulitan hidup yang tak terkira, karena kami kekurangan
guru—lagi pula siapa yang
rela diupah beras 15 kilo setiap bulan? Maka selama enam
tahun di SD Muhammadiyah,
beliau sendiri yang mengajar semua mata pelajaran—mulai
dari Menulis Indah, Bahasa
Indonesia, Kewarganegaraan, Ilmu Bumi, sampai
Matematika, Geografi,
Prakarya, dan Praktik Olahraga. Setelah seharian mengajar, beliau
melanjutkan bekerja menerima
jahitan sampai jauh malam untuk mencari nafkah,
menopang hidup dirinya dan
adik-adinya.
BU MUS adalah seroang guru
yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan
jauh ke depan. Beliau
menyusun sendiri silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan
kepada kami sejak dini
pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan,
dan hak-hak asasi—jauh hari
sebelum orang-orang sekarang meributkan soal
materialisme versus
pembangunan spiritual dalam pendidikan. Dasar-dasar moral itu
menuntun kami membuat
konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks
Islam. Kami diajarkan
menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik
karena kesadaran pribadi.
Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah
Muhammadiyah sama sekali
tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks
legalitas institusional
seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengalaman lainnya.
“Shalatlah tepat waktu, biar
dapat pahala lebih banyak,” demikian Bu Mus selalu
menasihati kami.
Bukankah ini kata-kata yang
diilhami surah An-Nisa dan telah diucapkan ratusan
kali oleh puluhan khatib?
Sering kali dianggap sambil lalu saja oleh umat. Tapi jika yang
mengucapkannya Bu Mus
kata-kata itu demikian berbeda, begitu sakti, berdengungdengung
di dalam kalbu. Yang terasa
kemudian adalah penyesalan mengapa telah
terlamabat shalat.
Pada kesempatan lain, karena
masih kecil tentu saja, kami sering mengeluh
mengapa sekolah kami tak
seperti sekolah-sekolah lain. Terutama atap sekolah yang
bocor dan sangat menyusahkan
saat musim hujan. Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi
mengeluarkan sebuah buku
berbahasa Belanda dan memerplihatkan sebuah gambar.
Gambar itu adalah sebuah
ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang
suram, tinggi, gelap, dan
berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap, angker, penuh
kekerasan dan kesedihan.
“inilah sel Pak Karno di
sebuah penjara di Bandung, di sini beliau menjalani
hukuman dan setiap hari
belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah satu
orang tercerdas yang pernah
dimiliki bangsa ini.”
Beliau tak melanjutkan
ceritanya.
Kami tersihir dalam senyap.
Mulai saat itu kami tak pernah lagi memprotes
keadaan sekolah kami. Pernah
suatu ketika hujan turun amat lebat, petir sambar
menyambar. Trapani dan Mahar
memakai terindak, topi kerucut dari daun lais khas
tentara Vietkong, untuk
melindungi jambul mereka. Kucai, Borek, dan Sahara memakai
jas hujan kuning bergambar
gerigi metal besar di punggungnya dengan tulisan “UPT Bel”
(Unit Penambangan Timah
Belitong)—jas hujan jatah PN Timah milik bapaknya. Kami
sisanya hampir basah kuyup.
Tapi sehari pun kami tak pernah bolos, dan kami tak pernah
mengeluh, tidak, sedikit pun
kami tak pernah mengeluh.
Bagi kami Pak Harfan dan Bu
Mus adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang
sesungguhnya. Merekalah
mentor, penjaga, sahabat, pengajar, dan guru spiritual. Mereka
yang pertama menjelaskan
secara gamblang implikasi amar makruf nahi mungkar
sebagai pegangan moral kami
sepanjang hayat. Mereka mengajari kami membuat rumahrumahan
dari perdu apit-apit,
mengusap luka-luka di kaki kami, membimbing kami cara
mengambil wudu, melongok ke
dalam sarung kami ketika kami disunat, mengajari kami
doa sebelum tidur, memompa
ban sepeda kami, dan kadang-kadang membuatkan kami
air jeruk sambal.
Mereka adalah ksatria tampa
pamrih, pangeran keikhlasan, dan sumur jernih ilmu
pengetahuan di ladang yang
ditinggalkan. Sumbangan mereka laksana manfaat yang
diberikan pohon filicium yang
menaungi atap kelas kami. Pohon ini meneduhi kami dan
dialah saksi seluruh drama
ini. Seperti guru-guru kami, filicium memberi napas
kehidupan bagi ribuan
organisme dan menjadi tonggak penting mata rantai ekosistem.
Bab5
the tower of babel
JUMLAH orang Tionghoa di
kampung kami sekitar sepertiga dari total populasi. Ada
orang Kek, ada orang Hokian,
ada orang Tongsan, dan ada yang tak tahu asal usulnya.
Bisa saja mereka yang lebih
dulu mendiami pulau ini daripada siapa pun. Aichang, phok,
kiaw, dan khaknai, seluruhnya
adalah perangkat penambangan timah primitf yang
sekarang dianggap temuan
arkeologi, bukti bahwa nenek moyang mereka telah lama sekali berada di Pulau
Belitong. Komunitas ini selalu tipikal: rendah hati ddan pekerja
keras. Meskipun jauh terpisah
dari akar budayanya namun mereka senantiasa memelihara
adat istiadatnya, dan di
Belitong mereka beruntung karena mereka tak perlu jauh-jauh
datang ke Jinchanying kalau
hanya ingin melihat Tembok Besar Cina.
Persis bersebelahan dengan
toko-toko kelontong milik warga Tionghoa ini berdiri
tembok tinggi yang panjang
dan di sana sini tergantung papan peringatan “DILARANG
MASUK BAGI YANG TIDAK
MEMILIKI HAK”. Di atas tembok ini tidak hanya
ditancapi pecahan-pecahan
kaca yang mengancam tapi juga dililitkan empat jalur kawat
berduri seperti di kamp
Auschwitz. Namun, tidak seperti Temok Besar Cina yang
melindungi berbagai dinasti
dari sebuan suku-suku Mongol di utara, di Belitong tembok
yang angkuh dan
berkelak-kelok sepanjang kiloan meter ini adalah pengukuhan sebuah
dominasi dan perbedaan status
sosial.
Di balik tembok itu
terlindung sebuah kawasan yang disebut Gedong, yaitu negeri
asing yang jika berada di
dalmanya orang akan merasa tak sedang berada di Belitong.
Dan di dalam sana berdiri
sekolah-sekolah PN. Sekolah PN adalah sebutan untuk sekolah
milik PN (Perusahaan Negara)
Timah, sebuah perusahaan yang paling berpengaruh di
Belitong, bahkan sebuah
hegemoni lebih tepatnya, karena timah adalah denyut nadi pulau
kecil itu.
Suatu sore seorang gentleman
keluar dari balik tembok itu untuk berkeliling
kampung dengan sebuah
Chevrolet Corvette, lalu esoknya di depan sebuah majelis ia
mencibir.
“Tak satu pun kulihat ada
anak muda memegang pacul! Tak pernah kulihat orangorang
muda demikian malas seperti
di sini.”
Ha? Apa dia kira kami bangsa
petani? Kami adalah buruh-buruh tambang yang
bangga, padi tak tumbuh di
atas tanah-tanah kami yang kaya material tambang!
LAKSANA the Tower of Babel—yakni
Menara Babel, metafora tangga menuju
surga yang ditegakkan bangsa
babylonia sebagai perlambang kemakmuran 5.600 tahun
lalu, yang berdiri arogan di
antara Sungai Tigris dan Eufrat di tanah yang sekarang
disebut Irak—timah di
Belitong adalah menara gading kemakmuran berkah Tuhan yang
menjalar sepanjang
Semenanjung Malaka, tak putus-putus seperti jalian urat di punggung tangan. Tuhan
memberkahi Belitong dengan timah bukan agar kapal yang berlayar ke
pulau itu tidak menyimpang ke
Laut Cina Selatan, tetapi timah dialirkan-Nya ke sana
untuk menjadi mercusuar bagi
penduduk pulau itu sendiri. Adakah mereka telah semenamena bangsa lemuria. Dan
terberkatilah tanah yang dialiri timah karena ia seperti knautia yang dirubung
beragam jenis lebah madu.
Timah selalu mengikat material ikutan, yakni harta karun tak
ternilai yang melimpah ruah:
granit, zirkonium, silika, senotim, monazite, ilmenit, siderit,
hematit, clay, emas, galena,
tembaga, kaolin, kuarsa, dan topas …. Semuanya berlapislapis,
meluap-luap, beribu-ribu ton
di bawah rumah-rumah panggung kami. Kekayaan ini
adalah … bahan dasar kaca
berkualitas paling tinggi, bijih besi dan titanium yang bernas,
… material terbaik untuk
superkonduktor, timah kosong ilmenit yang digunakan
laboratorium roket NASA sebagai
materi antipanas ekstrem, zirkonium sebagai bahan
dasar produk-produk tahan
api, emas murni dan timah hitam yang amat mahal, bahkan
kami memiliki sumber tenaga
nuklir: uranium yang kaya raya. Semua ini sangat
kontradiktif dengan
kemiskinan turun temurun penduduk asli Melayu Belitong yang
hidup berserakan di atasnya.
Kami seperti sekawanan tikus yang paceklik di lumbung
padi.
Belitong dalam batas kuasa
eksklusif PN Timah adalah kota praja Konstantinopel
yang makmur. PN adalah penguasa
tunggal Pulau Belitung yang termasyhur di seluruh
negeri sebagai Pulau Timah.
Nama itu tercetak di setiap buku geografi atau buku
Himpunan Pengetahuan Umum
pustaka wajib sekolah dasar. PN amat kaya. Ia punya
jalan raya, jembatan,
pelabuhan, real estate, bendungan, dok kapal, sarana
telekomunikasi, air, listrik,
rumah-rumah sakit, sarana olahraga—termasuk beberapa
padang golf, kelengkapan
sarana hiburan, dan sekolah-sekolah. PN menjadikan
Belitong—sebuah pulau kecil—seumpama
desa perusahaan dengan aset triliunan rupiah.
PN merupakan penghasil timah
nasional terbesar yang mempekerjakan tak kurang
dari 14.000 orang. Ia
menyerap hampir seluruh angkatan kerja di Belitong dan
menghasilkan devisa jutaan
dolar. Lahan eksploiotasinya tak terbatas. Lahan itu disebut
kuasa penambangan dan secara
ketat dimonopoli. Legitimasi ini diperoleh melalui
pembayaran royalti—lebih pas
disebut upeti—miliaran rupiah kepada pemerintah. PN
mengoperasikan 16 unit emmer
bager atau kapal keruk yang bergerak lamban, mengorek
isi bumi dengan 150 buah
mangkuk-mangkuk baja raksasa, siang malam merambah laut,
sungai, dan rawa-rawa,
bersuara mengerikan laksana kawanan dinosaurus.
Di titik tertinggi siklus
komidi putar, di masa keemasan itu, penumpangnya
mabuk ketinggian dan tertidur
nyenyak, melanjutkan mimpi gelap yang ditiup-tiupkan
kolonialis. Sejak zaman
penjajahan, sebagai platform infrastruktur ekonomi, PN tidak
hanya memonopoli faktor
produksi terpenting tapi juga mewarisi mental bobrok
feodalistis ala Belanda.
Sementara seperti sering dialami oleh warga pribumi di mana pun
yang sumber daya alamnya
dieksploitasi habis-habisan, sebagaian komunitas di Belitong
juga termarginalkan dalam
ketidakadilan kompensasi tanah ulayah, persamaan
kesempatan, dan trickle
down effects.
Bab6
gedong
PULAU Belitong yang makmur seperti mengasingkan diri dari
tanah Sumatra yang
membujur dan di sana mengalir kebudayaan Melayu yang tua. Pada abad ke-19, ketika
korporasi secara sistematis mengeksploitasi timah, kebudayaan bersahaja itu mulai hidup
dalam karakteristik sosiologi tertentu yang atribut-atributnya mencerminkan perbedaan
sangat mencolok seolah berdasarkan status berkasta-kasta. Kasta majemuk itu tersusun
rapi mulai dari para petinggi PN Timah yang disebut “orang staf” atau urang setap dalam
dialek lokal sampai pada para tukang pikul pipa di instalasi penambangan serta warga
suku Sawang yang menjadi buruh-buruh yuka penjahit karung timah. Salah satu atribut
diskriminasi itu adalah sekolah-sekolah PN.
Maka lahirlah kaum menak, implikasi dari institusi yang ingin memelihara citra
aristokrat. PN melimpahi orang staf dengan penghasilan dan fasilitas kesehatan,
pendidikan, promosi, transportasi, hiburan, dan logistik yang sangat diskriminatif
dibanding kompensasi yang diberikan kepada mereka yang bukan orang staf. Mereka,
kaum borjuis ini, bersemayam di kawasan eksklusif yang disebut Gedong. Mereka seperti
orang-orang kulit putih di wilayah selatan Amerika pada tahun 70-an. Feodalisme di
Belitong adalah sesuatu yang unik, karena ia merupakan konsekuensi dari adanya budaya
korporasi, bukan karena tradisi paternalistik dari silsilah, subkultur, atau privilese yang
dianugerahkan oleh penguasa seperti biasa terjadi di berbagai tempat lain.
Sepadan dengan kebun gantung yang memesona di pelataran menara Babylonia,
sebuah taman kesayangan Tiran Nebuchadnezzar III untuk memuja Dewa Marduk,
Gedong adalah land mark Belitong. Ia terisolasi tembok tinggi berkeliling dengan satu
akses keluar masuk seperti konsep cul de sac dalam konsep pemukiman modern.
Arsitektur dan desain lanskapnya bergaya sangat kolonial. Orang-orang yang tinggal di
dalamnya memiliki nama-nama yang aneh, misalnya Susilo, Cokro, Ivonne, Setiawan,
atau Kuntoro, tak ada Muas, Jamali, Sa’indun, Ramli, atau Mahader seperti nama orangorang
Melayu, dan mereka tidak pernah menggunakan bin atau binti.
Gedong lebih seperti sebuah kota satelit yang dijaga ketat oleh para Polsus (Polisi
Khusus) Timah. Jika ada yang lancang masuk maka koboi-koboi tengik itu akan
menyergap, mengintergoasi, lalu interogasi akan ditutup dengan mengingatkan sang
tangkapan pada tulisan “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”
yang bertaburan secara mencolok pada berbagai akses dan fasilitas di sana, sebuah power
statement tipikal kompeni.
Kawasan warisan Belanda ini menjunjung tinggi kesan menjaga jarak, dan kesan
itu diperkuat oleh jajaran pohon-pohon saga tua yang menjatuhkan butir-butir buah
semerah darah di atas kap mobil-mobil mahal yang berjejal-jejal sampai keluar garasi. Di
sana, rumah-rumah mewah besar bergaya Victoria memiliki jendela-jendela kaca lebar
dan tinggi dengan tirai yang berlapis-lapis laksana layar bioskop. Rumah-rumah itu
ditempatkan pada kontur yang agak tinggi sehingga kelihatan seperti kastil-kastil kaum
bangsawan dengan halaman terpelihara rapi dan danau-danau buatan. Di dalamnya hidup
tenteram sebuah keluarga kecil dengan dua atau tiga anak yang selalu tampak damai,
temaram, dan sejuk.
Setiap rumah memiliki empat bangunan terpisah yang disambungkan oleh selasarselasar
panjang. Itulah rumah utama sang majikan, rumah bagi para pembantu, garasi,
dan gudang-gudang. Selasar-selasar itu mengelilingi kolam kecil yang ditumbuhi
Nymphaea caereulea atau the blue water lily yang sangat menawan dan di tengahnya
terdapat patung anak-anak gendut semacam Manequin Piss legenda negeri Belgia yang
menyemprotkan air mancur sepanjang waktu dari kemaluan kecilnya yang lucu.
Pot-pot kayu anggrek mahal Tainia shimadai dan Chysis digantungkan berderetderet
di bibir atap selasar dan di bawahnya tersusun rapi bejana keramik antik bertanggatangga
berisi kaktus Chaemasereas dan Parodia scopa. Untuk urusan bunga ini ada
petugas khusus yang merawatnya. Di luar lingkar kolam didirikan sebuah kandang
berlubang kotak-kotak kecil persegi berbentuk piramida yang berseni dan ditopang oelh
sebuah pilar bergaya Romawi, itulah rumah burung merpati Inggris.
Di dalam rumah utama sang majikan terdapat ruang tamu dengan lampu-lampu
yang teduh dan perabot utama di sana adalah sebuah sofa Victorian rosewood berwarna
merah. Jika duduk di atasnya seseorang dapat merasa dirinya seperti seorang paduka raja.
Di samping ruang tamu adalah ruang makan tempat para penghuni rumah makan malam
mengenakan busana senja yang terbaik dan bersepatu. Di meja makan mewah dengan
kayu cinnamon glaze, mereka duduk mengelilingi makanan yang namanya bahkan belum
ada terjemahannya. Pertama-tama perangsang lapar pumpkin and Gorgonzola soup, lalu
hadir caesar salad menu utama, chicken cordon bleu, vitello alla Provenzale, atau ….
Pada bagian akhir sebagai makanan penutup adalah creamy cheesecake topped with
stawberry puree, buah-buah persik dan prem.
Mereka makan dengan tenang sembari mendengarkan musik klasik yang elegan:
Mozart: Haffner No. 35 in D Major. Mereka mematuhi table manner. Setelah
melampirkan serbet di atas pangkuannya makan malam dimulai nyaris tanpa suara dan
tak ada seorang pun yang menekan bibir meja dengan sikunya.
Sarapan pagi disajikan di ruangan yang berbeda. Ruangan ini terbuka, menghadap
ke kebun anggrek dan kolam renang dangkal yang biru. Mejanya juga berbeda yakni
terracotta tile top oval yang lucu namun berkelas. Di pagi hari mereka senang mencicipi
omelet dan menyeruput the Earl Grey atau cappuccino, lalu mereka melemparkan remahremah
roti pada burung-burung merpati Inggris yang berebutan, rakus tapi jinak.
Halaman setiap rumah sangat luas dan tak dipagar. Kebanyakan didekorasi
dengan karya seni instalasi dari konstruksi logam yang maknanya tak mudah dicerna
orang awam. Hamparan rumput manila di halaman menyentuh lembut bibir jalan raya
dengan tinggi permukaan yang sama. Ada daya tarik tersendiri di situ. Tak ada parit,
karena semua sistem pembuangan diatur di bawah tanah. Pekarangan ditumbuhi pinang
raja, bambu Jepang, pisang kipas, dan berjenis-jenis palem yang berselang-seling di
antara taman-taman bunga umum, ornamen, galeri, angsa-angsa besar yang berkeliaran,
kafe members only, patung-patung, snooker bar, sudut-sudut tempat bermain anak-anak
berisi ayam-ayam kalkun yang dibiarkan bebas, trotoar untuk membawa anjing jalanjalan,
kolam-kolam renang, dan lapangan-lapangan golf. Tenang dan tidak berisik,
kecuali sedikit bunyi, rupanya anjing pudel sedang mengejar beberapa ekor kucing
anggora.
Namun, selain suara hewan-hewan lucu itu sore ini terdengar lamat-lamat denting
piano dari salah satu kastil Victoria yang terututp rapat berpilar-pilar itu. Floriana atau
Flo yang tomboi, salah seorang siswa sekolah PN, sedang les piano. Guru privatnya
sangat bersemangat tapi Flo sendiri terkantuk-kantuk tanpa minat. Kedua tangannya
menopang wajah murungnya sambil menguap berulang-ulang di samping sebuah
instrumen megah: grand piano merk Steinway and sons yang hitam, dingin, dan
berkilauan. Wajah Flo seperti kucing kebanyakan tidur dan bangun magrib-magrib.
Bapaknya—seorang Mollen Bas, kepala semua kapal keruk—duduk di sebuah
kursi besar semacam singgasana sehingga tubuh kecilnya tenggelam. Kakinya dibungkus
sepatu mahal De Carlo cokelat yang elegan, tergantung berayun-ayun lucu. Ia geram
pada tingkah si tomboi dan malu pada sang guru, seorang wanita berkacamata, setengah
baya, berwajah cerdas dan hanya bisa tersenyum-senyum. Beliau tak henti-henti
memohon maaf pada wanita Jawa yang sangat santun itu atas kelakuan anaknya.
Bapak Flo adalah orang hebat, seseorang yang amat terpelajar. Ia adalah insinyur
lulusan terbaik dari Technische Universiteit Delf di Holland dari Fakultas
Werktuiqbouwkunde, Maritieme techniek & technische materiaalwetenschappen, yang
artinya kurang lebih: jago teknik.
Ia adalah salah satu dari segelintir orang Melayu asli Belitong yang berhak tinggal
di Gedong dan orang kampung yang mampu mencapai karier tinggi di jajaran elite orang
staf karena kepintarannya. Sebagai Mollen Bas beliau sanggup mengendalikan shift
ribuan karyawan, memperbaiki kerusakan kapal keruk yang tenaga-tenaga ahli asing
sendiri sudah menyerah, dan mengendalikan aset produksi miliaran dolar. Tapi
menghadapi anak perempuan kecilnya, si tomboi gasing yang tak bisa diatur ini, beliau
hampir menyerah. Semakin keras suara bapaknya menghardik semakin lebar Flo
menguap.
Pokok perkaranya sederhana, yakni beliau telah memiliki beberapa anak laki-laki
dan Flo si bungsu, adalah anak perempuan satu-satunya. Namun anak perempuannya ini
bersikeras ingin menjadi laki-laki. Setiap hari beliau berusaha memerempuankan Flo
antara lain dengan memaksanya kursus piano. Grand piano itu didatangkan dengan kapal
khusus dari Jakarta. Guru privat yang merupakan seorang instruktur musik profesional,
juga khusus dijemput dari Tanjong Pandan. Lebih dari itu, di sela kesibukannya,
bapaknya rela menunggui Flo kursus, namun yang beliau dapat tak lebih dari uapanuapan
itu. Flo bahkan tak berminat menyentuh tuts-tuts hitam putih yang berkilat-kilat
karena pikirannya melayang ke sasana tempat ia latihan kick boxing dan angkat barbel.
Flo tak suka menerima dirinya sebagai seorang perempuan. Mungkin karena
pengharuh dari saudara-saudara kandungnya yang seluruhnya laki-laki atau karena suatu
ketidakseimbangan dalam kimia tubuhnya. Maka ia memotong rambut dengan model
lurus pendek dan ia belajar mengubah ekspresi wajah cantiknya agar merefleksikan
seringai laki-laki. Ia bercelana jeans, kaos oblong, dan membuang anting-anting yang
dibelikan ibunya. Guru privat itu memperkenalkan dengan lembut notasi do, mi, sol, si
dalam lintasan empat oktaf dan memperlihatkan posisi jari-jemari pada setiap notasi itu
membujur dan di sana mengalir kebudayaan Melayu yang tua. Pada abad ke-19, ketika
korporasi secara sistematis mengeksploitasi timah, kebudayaan bersahaja itu mulai hidup
dalam karakteristik sosiologi tertentu yang atribut-atributnya mencerminkan perbedaan
sangat mencolok seolah berdasarkan status berkasta-kasta. Kasta majemuk itu tersusun
rapi mulai dari para petinggi PN Timah yang disebut “orang staf” atau urang setap dalam
dialek lokal sampai pada para tukang pikul pipa di instalasi penambangan serta warga
suku Sawang yang menjadi buruh-buruh yuka penjahit karung timah. Salah satu atribut
diskriminasi itu adalah sekolah-sekolah PN.
Maka lahirlah kaum menak, implikasi dari institusi yang ingin memelihara citra
aristokrat. PN melimpahi orang staf dengan penghasilan dan fasilitas kesehatan,
pendidikan, promosi, transportasi, hiburan, dan logistik yang sangat diskriminatif
dibanding kompensasi yang diberikan kepada mereka yang bukan orang staf. Mereka,
kaum borjuis ini, bersemayam di kawasan eksklusif yang disebut Gedong. Mereka seperti
orang-orang kulit putih di wilayah selatan Amerika pada tahun 70-an. Feodalisme di
Belitong adalah sesuatu yang unik, karena ia merupakan konsekuensi dari adanya budaya
korporasi, bukan karena tradisi paternalistik dari silsilah, subkultur, atau privilese yang
dianugerahkan oleh penguasa seperti biasa terjadi di berbagai tempat lain.
Sepadan dengan kebun gantung yang memesona di pelataran menara Babylonia,
sebuah taman kesayangan Tiran Nebuchadnezzar III untuk memuja Dewa Marduk,
Gedong adalah land mark Belitong. Ia terisolasi tembok tinggi berkeliling dengan satu
akses keluar masuk seperti konsep cul de sac dalam konsep pemukiman modern.
Arsitektur dan desain lanskapnya bergaya sangat kolonial. Orang-orang yang tinggal di
dalamnya memiliki nama-nama yang aneh, misalnya Susilo, Cokro, Ivonne, Setiawan,
atau Kuntoro, tak ada Muas, Jamali, Sa’indun, Ramli, atau Mahader seperti nama orangorang
Melayu, dan mereka tidak pernah menggunakan bin atau binti.
Gedong lebih seperti sebuah kota satelit yang dijaga ketat oleh para Polsus (Polisi
Khusus) Timah. Jika ada yang lancang masuk maka koboi-koboi tengik itu akan
menyergap, mengintergoasi, lalu interogasi akan ditutup dengan mengingatkan sang
tangkapan pada tulisan “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”
yang bertaburan secara mencolok pada berbagai akses dan fasilitas di sana, sebuah power
statement tipikal kompeni.
Kawasan warisan Belanda ini menjunjung tinggi kesan menjaga jarak, dan kesan
itu diperkuat oleh jajaran pohon-pohon saga tua yang menjatuhkan butir-butir buah
semerah darah di atas kap mobil-mobil mahal yang berjejal-jejal sampai keluar garasi. Di
sana, rumah-rumah mewah besar bergaya Victoria memiliki jendela-jendela kaca lebar
dan tinggi dengan tirai yang berlapis-lapis laksana layar bioskop. Rumah-rumah itu
ditempatkan pada kontur yang agak tinggi sehingga kelihatan seperti kastil-kastil kaum
bangsawan dengan halaman terpelihara rapi dan danau-danau buatan. Di dalamnya hidup
tenteram sebuah keluarga kecil dengan dua atau tiga anak yang selalu tampak damai,
temaram, dan sejuk.
Setiap rumah memiliki empat bangunan terpisah yang disambungkan oleh selasarselasar
panjang. Itulah rumah utama sang majikan, rumah bagi para pembantu, garasi,
dan gudang-gudang. Selasar-selasar itu mengelilingi kolam kecil yang ditumbuhi
Nymphaea caereulea atau the blue water lily yang sangat menawan dan di tengahnya
terdapat patung anak-anak gendut semacam Manequin Piss legenda negeri Belgia yang
menyemprotkan air mancur sepanjang waktu dari kemaluan kecilnya yang lucu.
Pot-pot kayu anggrek mahal Tainia shimadai dan Chysis digantungkan berderetderet
di bibir atap selasar dan di bawahnya tersusun rapi bejana keramik antik bertanggatangga
berisi kaktus Chaemasereas dan Parodia scopa. Untuk urusan bunga ini ada
petugas khusus yang merawatnya. Di luar lingkar kolam didirikan sebuah kandang
berlubang kotak-kotak kecil persegi berbentuk piramida yang berseni dan ditopang oelh
sebuah pilar bergaya Romawi, itulah rumah burung merpati Inggris.
Di dalam rumah utama sang majikan terdapat ruang tamu dengan lampu-lampu
yang teduh dan perabot utama di sana adalah sebuah sofa Victorian rosewood berwarna
merah. Jika duduk di atasnya seseorang dapat merasa dirinya seperti seorang paduka raja.
Di samping ruang tamu adalah ruang makan tempat para penghuni rumah makan malam
mengenakan busana senja yang terbaik dan bersepatu. Di meja makan mewah dengan
kayu cinnamon glaze, mereka duduk mengelilingi makanan yang namanya bahkan belum
ada terjemahannya. Pertama-tama perangsang lapar pumpkin and Gorgonzola soup, lalu
hadir caesar salad menu utama, chicken cordon bleu, vitello alla Provenzale, atau ….
Pada bagian akhir sebagai makanan penutup adalah creamy cheesecake topped with
stawberry puree, buah-buah persik dan prem.
Mereka makan dengan tenang sembari mendengarkan musik klasik yang elegan:
Mozart: Haffner No. 35 in D Major. Mereka mematuhi table manner. Setelah
melampirkan serbet di atas pangkuannya makan malam dimulai nyaris tanpa suara dan
tak ada seorang pun yang menekan bibir meja dengan sikunya.
Sarapan pagi disajikan di ruangan yang berbeda. Ruangan ini terbuka, menghadap
ke kebun anggrek dan kolam renang dangkal yang biru. Mejanya juga berbeda yakni
terracotta tile top oval yang lucu namun berkelas. Di pagi hari mereka senang mencicipi
omelet dan menyeruput the Earl Grey atau cappuccino, lalu mereka melemparkan remahremah
roti pada burung-burung merpati Inggris yang berebutan, rakus tapi jinak.
Halaman setiap rumah sangat luas dan tak dipagar. Kebanyakan didekorasi
dengan karya seni instalasi dari konstruksi logam yang maknanya tak mudah dicerna
orang awam. Hamparan rumput manila di halaman menyentuh lembut bibir jalan raya
dengan tinggi permukaan yang sama. Ada daya tarik tersendiri di situ. Tak ada parit,
karena semua sistem pembuangan diatur di bawah tanah. Pekarangan ditumbuhi pinang
raja, bambu Jepang, pisang kipas, dan berjenis-jenis palem yang berselang-seling di
antara taman-taman bunga umum, ornamen, galeri, angsa-angsa besar yang berkeliaran,
kafe members only, patung-patung, snooker bar, sudut-sudut tempat bermain anak-anak
berisi ayam-ayam kalkun yang dibiarkan bebas, trotoar untuk membawa anjing jalanjalan,
kolam-kolam renang, dan lapangan-lapangan golf. Tenang dan tidak berisik,
kecuali sedikit bunyi, rupanya anjing pudel sedang mengejar beberapa ekor kucing
anggora.
Namun, selain suara hewan-hewan lucu itu sore ini terdengar lamat-lamat denting
piano dari salah satu kastil Victoria yang terututp rapat berpilar-pilar itu. Floriana atau
Flo yang tomboi, salah seorang siswa sekolah PN, sedang les piano. Guru privatnya
sangat bersemangat tapi Flo sendiri terkantuk-kantuk tanpa minat. Kedua tangannya
menopang wajah murungnya sambil menguap berulang-ulang di samping sebuah
instrumen megah: grand piano merk Steinway and sons yang hitam, dingin, dan
berkilauan. Wajah Flo seperti kucing kebanyakan tidur dan bangun magrib-magrib.
Bapaknya—seorang Mollen Bas, kepala semua kapal keruk—duduk di sebuah
kursi besar semacam singgasana sehingga tubuh kecilnya tenggelam. Kakinya dibungkus
sepatu mahal De Carlo cokelat yang elegan, tergantung berayun-ayun lucu. Ia geram
pada tingkah si tomboi dan malu pada sang guru, seorang wanita berkacamata, setengah
baya, berwajah cerdas dan hanya bisa tersenyum-senyum. Beliau tak henti-henti
memohon maaf pada wanita Jawa yang sangat santun itu atas kelakuan anaknya.
Bapak Flo adalah orang hebat, seseorang yang amat terpelajar. Ia adalah insinyur
lulusan terbaik dari Technische Universiteit Delf di Holland dari Fakultas
Werktuiqbouwkunde, Maritieme techniek & technische materiaalwetenschappen, yang
artinya kurang lebih: jago teknik.
Ia adalah salah satu dari segelintir orang Melayu asli Belitong yang berhak tinggal
di Gedong dan orang kampung yang mampu mencapai karier tinggi di jajaran elite orang
staf karena kepintarannya. Sebagai Mollen Bas beliau sanggup mengendalikan shift
ribuan karyawan, memperbaiki kerusakan kapal keruk yang tenaga-tenaga ahli asing
sendiri sudah menyerah, dan mengendalikan aset produksi miliaran dolar. Tapi
menghadapi anak perempuan kecilnya, si tomboi gasing yang tak bisa diatur ini, beliau
hampir menyerah. Semakin keras suara bapaknya menghardik semakin lebar Flo
menguap.
Pokok perkaranya sederhana, yakni beliau telah memiliki beberapa anak laki-laki
dan Flo si bungsu, adalah anak perempuan satu-satunya. Namun anak perempuannya ini
bersikeras ingin menjadi laki-laki. Setiap hari beliau berusaha memerempuankan Flo
antara lain dengan memaksanya kursus piano. Grand piano itu didatangkan dengan kapal
khusus dari Jakarta. Guru privat yang merupakan seorang instruktur musik profesional,
juga khusus dijemput dari Tanjong Pandan. Lebih dari itu, di sela kesibukannya,
bapaknya rela menunggui Flo kursus, namun yang beliau dapat tak lebih dari uapanuapan
itu. Flo bahkan tak berminat menyentuh tuts-tuts hitam putih yang berkilat-kilat
karena pikirannya melayang ke sasana tempat ia latihan kick boxing dan angkat barbel.
Flo tak suka menerima dirinya sebagai seorang perempuan. Mungkin karena
pengharuh dari saudara-saudara kandungnya yang seluruhnya laki-laki atau karena suatu
ketidakseimbangan dalam kimia tubuhnya. Maka ia memotong rambut dengan model
lurus pendek dan ia belajar mengubah ekspresi wajah cantiknya agar merefleksikan
seringai laki-laki. Ia bercelana jeans, kaos oblong, dan membuang anting-anting yang
dibelikan ibunya. Guru privat itu memperkenalkan dengan lembut notasi do, mi, sol, si
dalam lintasan empat oktaf dan memperlihatkan posisi jari-jemari pada setiap notasi itu
Bab7
zoom out
TAK disangsikan, jika di-zoom out, kampung kami adalah
kampung terkaya di Indonesia. Inilah kampung tambang yang menghasilkan timah
dengan harga segenggam lebih mahal puluhan kali lipat dibanding segantang padi.
Triliunan rupiah aset tertanam di sana, miliaran rupiah uang berputar sangat
cepat seperti putaran mesin parut, dan miliaran dolar devisa mengalir deras
seperti kawanan tikus terpanggil pemain seruling ajaib Der Rattenfanger von
Hameln. Namun jika di-zoom in, kekayaan itu terperangkap di satu tempat, ia
tertimbun di dalam batas tembok-tembok tinggi Gedong. Hanya beberapa jengkal di
luar lingkaran tembok tersaji pemandangan kontras seperti langit dan bumi.
Berlebihan jika disebut daerah kumuh tapi tak keliru jika diumpamakan kota yang
dilanda gerhana berkepanjangan sejak era pencerahan revolusi industri. Di sana,
di luar lingkar tembok Gedong hidup komunitas Melayu Belitong yang jika belum
punya enam anak belum berhenti beranak pinak. Mereka menyalahkan pemerintah
karena tidak menyediakan hiburan yang memadai sehingga jika malam tiba mereka
tak punya kegiatan lain selain membuat anak-anak itu. Di luar tembok feodal
tadi berdirilah rumah-rumah kami, beberapa sekolah negeri, dan satu sekolah
kampung Muhammadiyah. Tak ada orang kaya di sana, yang ada hanya kerumunan toko
miskin di pasar tradisional dan rumah-rumah panggung yang renta dalam berbagai
ukuran. Rumah-rumah asli Melayu ini sudah ditinggalkan zaman keemasannya. Pemiliknya
tak ingin merubuhkannya karena tak ingin berpisah dengan kenangan masa jaya,
atau karena tak punya uang. Di antara rumah panggung itu berdesak-desakan
kantor polisi, gudang-gudang logistik PN, kantor telepon, toapekong, kantor
camat, gardu listrik, KUA, masjid, kantor pos, bangunan pemerintah—yang dibuat
tanpa perencanaan yang masuk akal sehingga menjadi bangunan kosong telantar,
tandon air, warung kopi, rumah gadai yang selalu dipenuhi pengunjung, dan rumah
panjang suku Sawang. Komunitas Tionghoa tinggal di bangunan permanen yang juga
digunakan sebagai toko. Mereka tidak memiliki pekarangan. Adapun pekarangan
rumah orang Melayu ditumbuhi jarak pagar, beluntas, beledu, kembang sepatu, dan
semak belukar yang membosankan. Pagar kayu saling-silang di parit bersemak di
mana tergenang air mati berwarna cokelat—juga sangat membosankan. Entok dan
ayam kampung berkeliaran seenaknya. Kambing yang tak dijaga melalap tanaman
bunga kesayangan sehingga sering menimbulkan keributan kecil. Jalan raya di
kampung ini panas menggelegak dan ingar-bingar oleh suara logam yang saling
beradu ketika truk-truk reyot lalu-lalang membawa berbagai peralatan teknik
eksplorasi timah. Kawasan kampung ini dapat disebut sebagai urban atau
perkotaan. Umumnya tujuh macam profesi tumpang tindih di sini: kuli PN sebagai
mayoritas, penjaga toko, pegawai negeri, pengangguran, pegawai kanotr desa,
pedagang, dan pensiunan. Sepanjang waktu mereka hilir mudik dengan sepeda.
Semuanya, para penduduk, kambing, entok, ayam, dan seluruh bangunan itu tampak
berdebu, tak teratur, tak berseni, dan kusam. Keseharian orang pinggiran ini
amat monoton. Pagi yang sunyi senyap mendadak sontak berantakan ketika kantor
pusat PN Timah membunyikan sirine, pukul 7 kurang 10. Sirine itu memekakkan
telinga dalam radius puluhan kilometer seperti peringatan serangan Jepang dalam
pengeboman Pearl Harbour. Demi mendengar sirine itu, dari rumah-rumah panggung,
jalan-jalan kecil, sudutsudut kampung, rumah-rumah dinas permanen berdinding
papan, dan gang-gang sempit bermunculanlah para kuli PN bertopi kuning
membanjiri jalan raya. Mereka berdesakan, terburu-buru mengayuh sepeda dalam
rombongan besar atau berjalan kaki, karena sepuluh menit lagi jam kerja
dimulai. Jumlah mereka ribuan. Mereka menyerbu tempat kerja masing-masing:
bengkel bubut, kilang minyak, gudang beras, dok kapal, dan unit-unit pencucian
timah. Para kuli yang bekerja shift di kapal keruk melompat berjejal-jejal ke
dalam bak truk terbuka seperti sapi yang akan digiring ke penjagalan. Tepat
pukul 7 kembali dibunyikan sirene kedua tanda jam resmi masuk kerja. Lalu
tiba-tiba jalan-jalan raya, kampung-kampung, dan pasar kembali lengang, sunyi
senyap. Setelah pukul 7 pagi, rumah orang Melayu Belitong hanya dihuni kaum
wanita, para pensiunan, dan anak-anak kecil yang belum sekolah. Kampung kembali
hidup pada pukul 10, yaitu ketika wanita-wanita itu memainkan orkestra menumbuk
bumbu. Suara alu yang dilantakkan ke dalam lumpang kayu bertalu-talu,
sahut-menyahut dari rumah ke rumah. Pukul 12 sirine kembali berbunyi, kali ini
adalah sebagai tanda istirahat. Dalam sekejap jalan raya dipenuhi para kuli
yang pulang sebentar. Lapar membuat mereka tampak seperti semut-semut hitam
yang sarangnya terbakar, lebih tergesa dibanding waktu mereka berangkat pagi
tadi. Pukul 2 siang sirine berdengung lagi memanggil mereka bekerja. Para kuli
ini akan kembali pulang ke peraduan setelah terdengar sirine yang sangat
panjang tepat pukul 5 sore. Demikianlah yang berlangsung selama puluhan tahun
lamanya. TIDAK seperti di Gedong, jika makan orang urban ini tidak mengenal
appetizer sebagai perangsang selera, tak mengenal main course, ataupun dessert.
Bagi mereka semuanya adalah menu utama. Pada musim barat ketika nelayan enggan
melaut, menu utama itu adalah ikan gabus. Para kuli yang bernafsu makan besar
sesuai dengan pembakaran kalorinya itu jika makan seluruh tubuhnya seakan
tumpah ke atas meja. Agar lebih praktis tak jarang baskom kecil nasi langsung
digunakan sebagai piring. Di situlah diguyur semangkuk gangan, yaitu masakna
tradisional dengan bumbu kunir. Ketika makan emreka tak diiringi karya Mozart
Haffner No. 35 in D Major tapi diiringi rengekan anak-anaknya yang minta
dibelikan baju pramuka. Setiap subuh para istri meniup siong (potongan bambu)
untuk menghidupkan tumpukan kayu bakar. Asap mengepul masuk ke dalam rumah,
menyembul keluar melalui celah dinding papan, dan membangunkan entok yang
dipelihara di bawah rumah panggung. Asap itu membuat penghuni rumah
terbatuk-batuk, namun ia amat diperlukan guna menyalakan gemuk sapi yang dibeli
bulan sebelumnya dan digantungkan berjuntaijuntai seperti cucian di atas
perapian. Gemuk sapi itulah sarapan mereka setiap pagi. Sebelum berangkat para
kuli itu tidak minum teh Earlgrey atau cappuccino, melainkan minum air gula
aren dicampur jadam untuk menimbulkan efek tenaga kerbau yang akan digunakan sepanjang
hari. apabila persediaan gemuk sapi menipis dan angin barat semakin kencang,
maka menu yang disajikan sangatlah istimewa, yaitu lauk yang diasap untuk
sarapan, lauk yang diasin untuk makan siang, dan lauk yang dipepes untuk makan
malam, seluruhnya terbuat dari ikan gabus. DI luar lingkungan urban, berpencar
menuju dua arah besar adalah wilayah rural atau pedesaan. Daerha ini memanjang
dalam jarak puluhan kilometer menuju ke barat ibu kota Kabupaten: Tanjong
Pandan. Sebaliknya, ke arah selatan akan menelusuri jalur ke pedalaman. Jalur
ini berangsur-angsur berubah dari aspal menjadi jalan batu merah dan
lama-kelamaan menjadi jalan tanah setapak yang berakhir di laut. Di sepanjang
jalur pedesaan rumah penduduk berserakan, berhadap-hadapan dipisahkan oleh
jalan raya. Dulu nenek moyang mereka berladang di hutan. Belanda menggiring
mereka ke pinggir jalan raya, agar mudah dikendalikan tentu saja. Orang-orang
pedesaan ini hidup bersahaja, umumnya berkebun, mengambil hasil hutan, dan
mendapat bonus musiman dari siklus buah-buahan, lebah madu, dan ikan air tawar.
Mereka mendiami tanah ulayat dan di belakang rumah mereka terhampar ribuan
hektar tanah tak bertuan, padang sabana, rawa-rawa layaknya laboratorium alam
yang lengkap, dan aliran air bening yang belum tercemar. Kekuatan ekonomi
Belitong dipimpin oleh orang staf PN dan para cukong swasta yang mengerjakan
setiap konsesi eksploitasi timah. Mereka menempati strata tertinggi dalam
lapisan yang sangat tipis. Kelas menengah tak ada, oh atau mungkin juga ada,
yaitu para camat, para kepala dinas dan pejabat-pejabat publik yang korupsi
kecil kecilan, dan aparat penegak hukum yang mendapat uang dari menggertaki
cukongcukong itu. Sisanya berada di lapisan terendah, jumlahnya banyak dan
perbedaannya amat mencolok dibanding kelas di atasnya. Mereka adalah para
pegawai kantor desa, karyawan rendahan PN, pencari madu dan nira, para pemain
organ tunggal, semua orang Sawang, semua orang Tionghoa kebun, semua orang
Melayu yang hidup di pesisir, para tenaga honorer Pemda, dan semua guru dan
kepala sekolah—baik sekolah negeri maupun sekolah kampung—kecuali guru dan
kepala sekolah PN.
Bab8
center of excellence
SEKOLAH-SEKOLAH
PN Timah, yaitu TK, SD, dan SMP PN berada dalam kawasan Gedong. Sekolah-sekolah
ini berdiri megah di bawah naungan Aghatis berusia ratusan tahun dan
dikelilingi pagar besi tinggi berulir melambangkan kedisiplinan dan mutu tinggi
pendidikan. Sekolah PN merupakan center of excellence atau tempat bagi semua
hal yang terbaik. Sekolah ini demikian kaya raya karena didukung sepenuhnya
oleh PN Timah, sebuah korporasi yang kelebihan duit. Institusi pendidikan yang
sangat modern ini lebih tepat disebut percontohan bagaimana seharusnya generasi
muda dibina. Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak kalah
indahnya dengan rumah bergaya Victoria di sekitarnya. Ruangan kelasnya dicat
warna-warni dengan tempelan gambar kartun yang edukatif, poster operasi dasar
matematika, tabel pemetaan unsur kimia, peta dunia, jam dinding, termometer,
foto para ilmuwan dan penjelajah yang memberi inspirasi, dan ada kapstok topi.
Di setiap kelas ada patung anatomi tubuh yang lengkap, globe yang besar, white
board, dan alat peraga konstelasi planet-planet. Di dalam kelas-kelas itu
puluhan siswa brilian bersaing ketat dalam standar mutu yang sanggat tinggi.
Sekolah-sekolah ini memiliki perpustakaan, kantin, guru BP, laboratorium,
perlengkapan kesenian, kegiatan ekstrakurikuler yang bermutu, fasilitas
hiburan, dan sarana olahraga—termasuk sebuah kolam renang yang masih disebut
dalam bahasa Belanda: zwembad. Di depan pintu masuk kolam renang ini tentu saja
terpampang peringatan tegas “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”. Di
setiap kelas ada kotak P3K berisi obat-obat pertolongan pertama. Kalau ada
siswanya yang sakit maka ia akan langsung mendapatkan pertolongan cepat secara
profesional atau segera dijemput oleh mobil ambulans yang meraung-raung. Mereka
memiliki petugas-petugas kebersihan khusus, guru-guru yang bergaji mahal, dan
para penjaga sekolah yang berseragam seperti polisi lalu lintas dan selalu
meniup-niup peluit. Tali merah bergulung-gulung keren sekali di bahu seragamnya
itu. “Jumlah gurunya banyak.” Demikian ujar Bang Amran Isnaini bin Muntazis
Ilham—yang pernah sekolah di sana—persis pada malam sebelum esoknya aku masuk
pertama kali di SD Muhammadiyah itu. Aku termenung. “Setiap pelajaran ada
gurunya masing-masing, walaupun kau baru kelas satu.” Maka pada malam itu aku
tak bsia tidur akibat pusing menghitung berapa banyak jumlah guru di sekolah
PN, tentu saja juga selain karena rasa senang akan masuk sekolah besok. Murid
PN umumnya anak-anak orang luar Belitong yang bapaknya menjadi petinggi di PN.
Sekolah ini juga menerima anak kampung seperti Bang Amran, tapi tentu saja yang
orangtuanya sudah menjadi orang staf. Mereka semua bersih-bersih, rapi, kaya,
necis, dan pintar-pintar luar biasa. Mereka selalu mengharumkan nama Belitong
dalam lomba-lomba kecerdasan, bahkan sampai tingkat nasional. Sekolah PN sering
dikunjungi para pejabat, pengawas sekolah, atau sekolah lain untuk melakukan
semacam benchmarking, melihat bagaimana seharusnya ilmu pengetahuan ditransfer
dan bagaimana anak-anak kecil dididik secara ilmiah. Pendaftaran hari pertama
di sekolah PN adalah sebuah perayaan penuh sukacita. Puluhan mobil mewah
berderet di depan sekolah dan ratusan anak orang kaya mendaftar. Ada bazar dan
pertunjukan seni para siswa. Setiap kelas bisa menampung hampir sebanyak 40
siswa dan paling tidak ada 4 kelas untuk setiap tingkat. SD PN tidak akan
membagi satu pun siswanya kepada sekolah-sekolah lain yang kekurangan murid
karena sekolah itu memiliki sumber daya yang melimpah ruah untuk mengakomodasi
berapa pun jumlah siswa baru. Lebih dari itu, bersekolah di PN adalah sebuah
kehormatan, hingga tak seorang pun yang berhak sekolah di situ sudi
dilungsurkan ke sekolah lain. Ketika mendaftar badan mereka langsung diukur
untuk tiga macam seragam harian dan dua macam pakaian olah raga. Mereka juga
langsung mendapat kartu perpustakaan dan bertumpuk-tumpuk buku acuan wajib.
Seragamnya untuk hari Senin adalah baju biru bermotif bunga rambat yang indah.
Sepatu yang dikenakan berhak dan berwarna hitam mengilat. Sangat gagah ketika
ber-marching band melintasi kampung. Melihat mereka aku segera teringat pada
sekawanan anak kecil yang lucu, putih, dan bersayap, yang turun dari
awan—seperti yang biasa kita lihat pada gambar-gambar buku komik. Setiap pagi
para murid PN dijemput oleh bus-bus sekolah berwarna biru. Kepala sekolahnya
adalah seorang pejabat penting, Ibu Frischa namanya. Caranya ber-make up jelas
memperlihatkan dirinya sedang bertempur mati-matian melawan usia dan tampak
jelas pula, dalam pertempuran itu, beliau telah kalah. Ia seorang wanita keras
yang terpelajar, progresif, ambisius, dan sering habis-habisan menghina sekolah
kampung. Gerak geriknya diatur sedemikian rupa sebagai penegasan kelas
sosialnya. Di dekatnya siapa pun akan merasa terintimidasi. Kalau sempat
berbicara dengan beliau, maka ia sama seperti orang Melayu yang baru belajar memasak,
bumbunya cukup tiga macam: pembicaraan tentang fasilitasfasilitas sekolah PN,
anggaran ekstrakurikuler jutaan rupiah, dan tentang murid-muridnya yang telah
menajdi dokter, insinyur, ahli ekonomi, pengusaha, dan orang-orang sukses di
kota atau bahkan di luar negeri. Bagi kami yang waktu itu masih kecil, masih
berpandangan hitam putih, beliau adalah seorang tokoh antagonis. Yang dimaksud
dengan sekolah kampung tentu saja adalah perguruan Muhammadiyah dan beberapa
sekolah swasta miskin lainnya di Belitong. Selain sekolah miskin itu memang
terdapat pula beberapa sekolah negeri di kampung kami. Namun kondisi sekolah
negeri tentu lebih baik karena mereka disokong oleh negara. Sementara sekolah
kampung adalah sekolah swadaya yang kelelahan menyokong dirinya sendiri.
Bab9 penyakit gila no5
FILICIUM decipiens
biasa ditanam botanikus untuk mengundang burung. Daunnya lebat tak kenal musim.
Bentuk daunnya cekung sehingga dapat menampung embun untuk burung-burung kecil
minum. Dahannya pun mungil, menarik hati burung segala ukuran. Lebih dari itu,
dalam jarak 50 meter dari pohon ini, di belakang sekolah kami, berdiri kekar
menjulang awan sebatang pohon tua ganitri (Elaeocarpus sphaericus schum).
Tingginya hampir 20 meter, dua kali lebih tinggi dari filicium. Konfigurasi ini
menguntungkan bagi burung-burung kecil cantik nan aduhai yang diciptakan untuk
selalu menjaga jarak dengan manusia (sepertinya setiap makhluk yang merasa
dirinya cantik memang cenderung menjaga jarak), yaitu red breasted hanging
parrots atau tak lain serindit Melayu.Pelajaran moral nomor tiga: jika Anda
cantik, hidup Anda tak tenang. Seumpama suku-suku Badui di Jazirah Arab yang
menggantungkan hidup pada oasis maka filicium tua yang menaungi atap kelas kami
ini adalah mata air bagi kami. Hari-hari kami terorientasi pada pohon itu. Ia
saksi bagi drama masa kecil kami. Di dahannya kami membuat rumah-rumahan. Di
balik daunnya kami bersembunyi jika bolos pelajaran kewarganegaraan. Di batang
pohonnya kami menuliskan janji setia persahabatan dan mengukir nama-nama kecil
kami dengan pisau lipat. Di akarnya yang menonjol kami duduk berkeliling
mendengar kisah Bu Mus tentang petualangan Hang Jebat, dan di bawah keteduhan daunnya
yang rindang kami bermain lompat kodok, berlatih sandiwara Romeo dan Juliet,
tertawa, menangis, bernyanyi, belajar, dan bertengkar. Setelah serindit Melayu
terbang melesat pergi seperti anak panah Winetou menembus langit maka hadirlah
beberapa keluarga jalak kerbau. Penampilan burung ini sangat tak istimewa.
Karena tak istimewa maka tak ada yang memerhatikannya. Mereka santai saja
bertamu ke haribaan dedaunan filicium, menikmati setiap gigitan buah kecilnya,
buang hajat sesuka hatinya .... Bahkan ketika mulutnya penuh, mereka pun akan
membersihkan paruhnya dengan menggosok-gosokkannya pada kulit filicium yang
seperti handuk kering. Mereka kemudian akan turun ke tanah, buncit, penuh
daging, bulat beringsut-ingsut laksana seorang MC. Tak peduli pada dunia.
Sebaliknya, kami pun tak tertarik 37menggodanya. Interaksi kami dengan jalak
kerbau adalah dingin dan individualistis. Demikian pula hubungan kami dengan
burung ungkut-ungkut yang mematuki ulat di kulit filicium. Menurutku
ungkut-ungkut mendapat nama lokal yang tidak adil. Bayangkan, nama bukunya
adalah coppersmith barbet. Nyatanya ia tak lebih dari burung biru pucat
membosankan dengan bunyi yang lebih membosankan kut...kut...kut... namun
kehadirannya sangat kami tunggu karena ia selalu mengunjungi pohon filicium
sekitar pukul 10 pagi. Pada jam ini kami mendapat pelajaran kewarganegaraan
yang jauh lebih membosankan. Suara kut-kut-kut persis di luar jendela kelas
kami jelas lebih menghibur dibanding materi pelajaran bergaya indoktrinasi itu.
Setelah ungkut-ungkut berlalu hinggaplah kawanan cinenen kelabu yang mencari
serangga sisa garapan ungkut-ungkut. Tak pernah kulihat mereka hadir bersamaan
karena peringai coppersmith yang tak pernah mau kalah. Lalu silih berganti
sampai menjelang sore berkunjung burung-burung madu sepah, pipit,jalak biasa,
gelatik batu, dan burung matahari yang berjingkat-jingkat riang dari dahan ke
dahan. Demikian harmonisnya ekosistem yang terpusat pada sebatang pohon filicium
anggota familia Acacia ini. Seperti para guru yang mengabdi di bawahnya, pohon ini
tak henti-hentinya menyokong kehidupan sekian banyak spesies. Padam usim hujan
ia semakin semarak. Puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah, bunglon, lintah,
jamur telur beracun, kumbang, capung, ulat bulu, dan ular daun saling berebutan
tempat. Drama, opera, dan orkestra yang manggung di dahan-dahan filicium
sepanjang hari tak kalah seru dengan panggung sandiwara yang dilakoni sepuluh
homo sapiens di sebuah kelas di bawahnya. Seperti episode pagi ini misalnya. “Aku
mau ikut ke pasar, Cai,” Syahdan memohon kepada Kucai, ketika kami dibagi
kelompok dalam pelajaran pekerjaan tangan dan harus membli kertas kajang di
pasar. “Tapi sandal dan bajuku buruk begini”, katanya lagi dengan polos dan
tahu diri sambil melipat karung kecampang yang dipakainya sebagai tas sekolah. “Jangan
kau bikin malu aku, Dan, apa kata anak-anak SD PN nanti?” jawab Kucai sok
gengsi padahal satu pun ia tak kenal anak-anak kaya itu. Mengesankan dirinya
kenal dengan anak-anak sekolah PN dikiranya mampu menaikkan martabatnya di mata
kami. Maka sepatuku yang seperti sepatu bola itu kupinjamkan padanya. Borek
rela menukar dulu bajunya dengan baju Syahdan. Lalu Syahdan pun, yang memang berpembawaan
ceria, kali ini terlihat sangat gembira. Ia tak peduli kalau baju Borek
kebesaran dan sebenarnya tak lebih bagus dari bajunya. Ada pula 38kemungkinan
Borek kurapan, aku pernah melihat kurap itu ketika kami ramai ramai mandi di
dam tempo hari. Seperti Lintang, Syahdan yang miskin juga anak seorang nelayan.
Tapi bukan maksudku mencela dia, karena kenyataannya secara ekonomi kami,
sepuluh kawan sekelas ini, memang semuanya orang susah. Ayahku, contohnya,
hanya pegawai rendahan di PN Timah. Beliau bekerja selama 25 tahun mencedok tailing,
yaitu material buangan dalam instalasi pencucian timah yang disebut wasserij.
Selain bergaji rendah, beliau juga rentan pada risiko kontaminasi radio aktif
dari monazite dan senotim. Penghasilan ayahku lebih rendah dibandingkan
penghasilan ayah Syahdan yang bekerja di bagan dan gudang kopra, penghasilan
sampingan Syahdan sendiri sebagai tukang dempul perahu, serta ibunya yang
menggerus pohon karet jika digabungkan sekaligus. Masalahnya di mata Syahdan,
gedung sekolah, bagan ikan, dan gudang kopra tempat kelapa-kelapa busuk itu
bersemedi adalah sama saja. Ia tidak punya sense of fashion sama sekali dan di
lingkungannya tidak ada yang mengingatkannya bahwa sekolah berbeda dengan
keramba. Sebangku dengan Syahdan adalah A Kiong, sebuah anomali. Tak tahu apa
yang merasuki kepala bapaknya, yaitu A Liong, seorang Kong Hu Cu sejati, waktu mendaftarkan
anak laki-laki satu-satunya itu ke sekolah Islam puritan dan miskin ini.
Mungkin karena keluarga Hokian itu, yang menghidupi keluarga dari sebidang
kebun sawi, juga amat miskin. Tapi jika melihat A Kiong, siapa pun akan maklum
kenapa nasibnya berakhir di SD kampung ini. Ia memang memiliki penampilan akan
ditolak di mana-mana. Wajahnya seperti baru keluar dari bengkel ketok magic,
alias menyerupai Frankenstein. Mukanya lbar dan berbentuk kotak, rambutnya
serupa landak, matanya tertarik ke atas seperti sebilah pedang dan ia hampir
tidak punya alis. Seluruh giginya tonggos dan hanya tinggal setengah akibat
digerogoti phyrite dan markacite dari air minum. Guru mana pun yang melihat
wajahnya akan tertekan jiwanya, membayangkan betapa susahnya menjejalkan ilmu
ke dalam kepala aluminiumnya itu. Dia sangat naif dan tak peduli seperti jalak
kerbau. Jika kitam engatakan bahwa dunia akan kiamat besok maka ia pasti akan
bergegas pulang untuk menjual satu-satunya ayam yang ia miliki, bahkan meskipun
sang ayam sedang mengeram. Dunia baginya hitam putih dan hidup adalah sekeping
jembatan papan lurus yang harus dititi. Namun, meskipun wajahnya horor, hatinya
baik luar biasa. Ia penolong dan ramah, kecuali pada Sahara. Tapi tak dinyana,
sekian lama waktu berlalu, rupanya kepala kalengnya cepat juga menangkap ilmu.
Justru pria beraut manis manja yang duduk di depannya dan berpenampilan
layaknya orangpintar serta selalu mengangguk-angguk kalau menerima pelajaran,
ternyata lemot bukan main, namanya Kucai. Kucai sedikit tak beruntung.
Kekurangan gizi yang parah ketika kecil mungkin menyebabkan ia menderita miopia
alias rabun jauh. Selian itu pandangan 39matanya tidak fokus, melenceng sekitar
20 derajat. Maka jika ia memandang lurus ke depan artinya yang ia lihat adalah
benda di samping benda yang ada persis di depannya dan demikian sebaliknya,
sehingga saat berbicara dengan seseorang ia tidak memandang lawan bicaranya
tapi ia menoleh ke samping. Namun, Kucai adalah orang paling optimis yang
pernah aku jumpai. Kucai terkulai lemas. Hari ini kami mendapat pelajaran
penting tentang demokrasi, yaitu bahwa ternyata prinsip-prinsipnya tidak
efektif untuk suksesi jabatan kering. Bu Mus menghampirinya dengan lembut
sambil tersenyum jenaka. “Memegang amanah sebagai pemimpin memang berat tapi
jangan khawatir orang yang akan mendoakan. Tidakkah Ananda sering mendengar di
berbagai upacara petugas sering mengucap doa: Ya, Allah lindungilah para
pemimpin kami?Jarang sekali kita mendengar doa: Ya Allah lindungilah anak-anak
buah kami ....” DUDUK di pojok sana adalah Trapani. Namanya diambil dari nama
sebuah kota pantai di Sisilia. Nyatanya ia memang seelok kota pantai itu. Ia
memesona seumpama bondol peking. Si rapi jali ini adalah maskot kelas kami.
Seorang perfeksionis berwajah seindah rembulan. Ia tipe pria yang langsung
disukai wanita melalui sekali pandang. Jambul, baju, celana, ikat pinggang,
kaus kaki, dan sepatunya selalu bersih, serasi warnanya, dan licin. Ia tak
bicara jika tak perlu dan jika angkat bicara ia akan menggunakan kata-kata yang
dipilih dengan baik. Baunya pun harum. Ia seorang pemuda santun harapan bangsa
yang memenuhi semua syarat Dasa Dharma Pramuka. Citacitanya ingin jadi guru yang
mengajar di daerah terpencil untuk memajukan pendidikan orang Melayu pedalaman,
sungguh mulia. Seluruh kehidupannya seolah terinspirasi lagu Wajib Belajar
karya R.N. Sutarmas. Ia sangat berbakti kepada orangtua, khususnya ibunya.
Sebaliknya, ia juga diperhatikan ibunya layaknya anak emas. Mungkin karena ia
satu-satunya laki-laki di antara lima saudara perempuan lainnya. Ayahnya adalah
seorang operator vessel board di kantor telepon PN sekaligus tukang sirine. Meskipun
rumahnya dekat dengan sekolah tapi sampai kelas tiga ia masih diantar jemput ibunya.
Ibu adlaah pusat gravitasi hidupnya. Trapani agak pendiam, otaknya lumayan, dan
selalu menduduki peringkat ketiga. Aku sering cemburu karena aku kebajiran
salam dari sepupu-sepupuku untuk disampaikan pada laki-laki muda flamboyan ini.
Dia tak pernah menanggapi salam-salam itu. Di sisi lain kami juga sering
jengkel pada Trapani karena setiap kali kami punya “acara”, misalnya
menyangkutkan sepeda Pak Fahimi—guru kelas empat yang tak bermutu dan selalu
menggertak murid—di dahan pohon gayam, Trapani harus minta izin dulu pada
ibunya. Lalu ada Sahara, satu-satunya hawa di kelas kami. Dia secantik grey cheeked
green, atau burung punai lenguak. Ia ramping, berjilbab, dan sedikit lebih beruntung.
Bapaknya seorang Taikong, yaitu atasan para Kepala Parit, orang-orang lapangan
di PN. Sifatnya yang utama: penuh perhatian dan kepala batu. Maka tak ada yang berani
bikin gara-gara dengannya karena ia tak pernah segan mencakar. Jika marah ia
akan mengaum dan kedua alisnya bertemu. Sahara sangat temperamental, tapi ia
pintar. Peringkatnya bersaing ketat dengan Trapani.Kebalikan
dair A Kiong, Sahara sangat skeptis, susah diyakinkan, dan tak mudah dibaut
terkesan. Sifat lain Sahara yang amat menonjol adalah kejujurannya yang luar biasa dan benar-benar menghargai
kebenaran. Ia pantang berbohong.Walaupun diancam akan dicampakkan ke dalam
lautan api yang berkobarkobar,tak satu pun dusta akan keluar dari mulutnya.Musuh
abadi Sahara adalah A Kiong. Mereka bertengkar hebat, berbaikan, lalubertengkar
lagi. Sepertinya mereka sengaja dipertemukan nasib untuk selaluberselisih.
Mereka saling memprotes dan berbeda pendapat untuk hal-halsepele. Sahara
menganggap apa pun yang dilakukan A Kiong selalu salha, dan 43demikian pula
sebaliknya. bahwa teori ini tentu
saja hanya untuk mengingatkan anak-anaknya agar jangan bertindak keterlaluan.
Tapi begitulah teori penyakit gila versi teori itu efektif. Aku malu sudah
bertindak konyol. Aku tak yakin apakah Samson benar-benar menerapkan teknik
sinting itu untuk memperbesar otot-ototnya, ataukah ia hanya ingin membodohi
aku. Yang kutahu pasti adalah selama tiga hari berikutnya ia ke sekolah dengan
berjalan terkangkang-kangkang seperti orang pengkor, badannya yang besar
membuat ia tampak seperti kingkong
Bab10 bodenga
PADA
sebuah pagi yang lain, pukul sepuluh, seharusnya burung kut-kut sudahdatang.
Tapi pagi ini senyap. Aku tersenyum sendiri melamunkan seifat-sifat kawan
sekelasku. Lalu aku memandangi guruku Bu Mus, seseorang yang bersedia menerima
kami apa adanya dengan sepenuh hatinya, segenap jiwanya. Ada keindahan yang
unik dalam interaksi masing-masing sifat para sahabatku. Tersembunyi daya tarik
pada cara mereka mengartikan sekstan untuk mengukur diri sendiri, menilai
kemampuan orang tua, melihat arah masa depan, dan memersepsi pandangan
lingkungan terhadap mereka. Kadang kala pemikiran mereka kontradiktif terhadap
pendapat umum laksana gurun bertemu pantai atau ibarat hujan ketika matahari
sedang terik. Tak jarang mereka seperti kelelawar yang tersasar masuk ke kamar,
menabrak-nabrak kaca ingin keluar dan frustasi. Mereka juga seperti seekor
parkit yang terkurung di dalam gua, kebingungan dengan gema suaranya sendiri.
Pengetahuan
terbesar terutama kudapat dari sekolahku, karena perguruan Muhammadiyah
bukanlah center of excellence, tapi ia merupakan pusat marginalitas sehingga ia
adalah sebuah universitas kehidupan. Di sekolah ini aku memahami arti
keikhlasan, perjuangan, dan integritas. Lebih dari itu, perintis peruguran ini
mewariskan pelajaran yang amat berharga tentang ide-ide besar Islam yang mulia,
keberanian untuk merealisasi ide itu meskipun tak putus-putus dirundung
kesulitan, dan konsep menjalani hidup dengan gagasan memberi manfaat
sebesar-besarnya untuk orang lain melalui pengorbanan tanpa pamrih. induknya
adalah Bu Mus. Sekali lagi kulihat wajah mereka, Harun yang murah senyum,
Trapani yang rupawan, Syahdan yang lilipu, Kucai yang sok gengsi, Sahara yang
ketus, A Kiong yang polos, dan pria kedelapan—yaitu Samson—yang duduk seperti patung
Ganesha. Lalu siapa pria yang kesembilan dan kesepuluh? Lintang dan Mahar.
Pelajaran apa yang mereka tawarkan? Mereka adalah pria-pria muda yang sangat istimewa.
Memerlukan bab tersendiri untuk menceritakannya. Sampai di sini, aku sudah
merasa menjadi seorang anak kecil yang sangat beruntung. Ilmu menyebabkan aku
berani maju beberapa langkah lagi. Apalagi fisikia tidak mempertimbangkan psy
war, kalau aku maju ia pasti akan terintimidasi dan masuk lagi ke dalam air. “Aku
maju sedikit, membunyikan lonceng sepeda, bertepuk tangan, berdehamdeham, membuat
bunyi-bunyian agar dia merayap pergi. Tapi ia bergeming. Ukurannya dan teritip
yang tumbuh di punggungnya memperlihatkan dia penguasa rawa ini. Dan sekarang
saatnya mandi matahari. Secara fisik dan psikologis binatang atau secara apa
pun, buaya ini akan menang Kami prihatin dan tegang mendengar
kisah perjuangan Lintang menuju sekolah. “Tiba-tiba dari arah samping kudengar
riak air. Aku terkejut dan takut. Menyeruak di antara lumut kumpai, membelah
genangan setinggi dada, seorang laki-laki seram naik dari rawa. Ia berjalan
menghampiriku, kakinya bengkok seperti huruf O,” lanjutnya. Dia menyentuhnya!
Menepuk-nepuk lembut kulitnya sambil menggumamkan sesuatu. Ganjil sekali, buaya
itu seperti takluk, mengibas-ngibaskan ekornya laksana seekor anjing yang ingin
mengambil hati tuannya,
lalu
mendadak sontak, dengan sebuah lompatan dahsyat seperti terbang reptil zaman
Cretaceous itu terjun ke rawa menimbulkan suara laksana tujuh pohon kelapa
tumbang sekaligus. Lintang menarik napas. “bodenga berbalik ke arahku. Seperti selalu,
ekspresinya dingin dan jelas tak menginginkan ucapan terima kasih. Kenyataannya
aku tak berani menatapnya, nayliku runtuh. Dengan sekali sentak ia bisa
menenggelamkanku sekaligus sepeda ini ke dalam rawa. Aku mengenal reputasi
laki-laki liar ini. Tapi aku merasa beruntung karena aku telah menjadi
segelintir orang yang pernah secara langsung menyaksikan kehebatan ilmu buaya
Bodenga.” Tak seorang pun ingin menjadi sahabat Bodenga. Wajahnya carut-marut, berusia
empat puluhan. Ia menyelimuti dirinya dengan dahan-dahan kelapa dan tidur
melingkar seperti tupai di bawah pohon nifah selama dua hari dua malam. Jika
lapar ia terjun ke sumur tua di kantor polisi lama, menyelam, menangkap belut
yang terperangkap di bawah sana dan langsung memakannya ketika masih di dalam
air. Bodenga kini sebatang kara. Satu-satunya ekluarga yang pernah diketahui
orang adalah ayahnya yang buntung kaki kanannya. Orang bilang karena tumbal
ilmu buaya. Ayahnya itu seorang dukun buaya terkenal. Serbuan Islam yang tak terbendung
ke seantero kampung membuat orang menjauhi mereka, karena mereka menolak
meninggalkan penyembahan buaya sebagai Tuhan. Ayahnya telah mati karena melilit
tubuhnya sendiri kuat-kuat dari mata kaki sampai ke leher dengan akar jawi lalu
menerjunkan diri ke Sungai Mirang. Ia sengaja mengumpankan tubuhnya pada
buaya-buaya ganas di sana. Masyarakat hanya menemukan potongan kaki buntungnya.
Kini Bodenga lebih banyak menghabiskan waktu memandangi aliran Sungai Mirang,
sendirian sampai jauh malam. Ketika perutnya dibelah, ditemukan rambut, baju,
jam tangan, dan kalung. Saat itulah aku melihat Bodenga mendesak maju di antara
pengunjung. Lalu ia bersimpuh di samping sang buaya. Wajahnya pucat pasi. Ia
memberi isyarat kepada orang-orang, memohon agar berhenti mencincang binatang
itu. Orang-orang mundur dan melepaskan kayu bakar yang menyangga mulut buaya tersebut.
Mereka paham bahwa penganut ilmu buaya percaya jika mati mereka akan menjadi
buaya. Dan mereka maklum bahwa bagi Bodenga buaya ini adalah ayahnya karena
salah satu kaki buaya ini buntung.
Suatu hari rantai sepedanya putus dan
tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebab terlalu sering putus,
tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer, dan sampai di
sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran seni
suara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu Padamu Negeri
di depan kelas. Kami termenung mendengarkan ia bernyanyi dengan sepenuh jiwa,
tak tampak kelelahan di matanya yang berbinar jenaka. Setelah itu ia pulang
dengan menuntun sepedanya lagi sejauh empat puluh kilometer. Pada musim hujan
lebat yang bisa mengubah jalan menjadi sungai, menggenangi daratan dengan air
setinggi dada, membuat guruh dan halilintar membabat pohon kelapa hingga
tumbang bergelimpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terik hingga
alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil laut nihil
hingga berbulan-bulan semua orang tak punya uang sepeser pun, pada musim buaya
berkembang biak sehingga mereka menjadi semakin ganas, pada musim angin barat
putting beliung, pada musim demam, pada musim sampar—sehari pun Lintang tak
pernah bolos.
Ayahnya,
yang seperti orang Bushman itu, sekarang menganggap keputusan menyekolahkan
Lintang adalah keputusan yang tepat, paling tidak ia senang melihat semangat
anaknya menggelegak. Ia berharap suatu waktu di masa depan nanti Lintang mampu
menyekolahkan lima orang adik-adiknya yang lahir setahun sekali sehingga
berderet-deret rapat seperti pagar, dan lebih dari itu ia berharap Lintang
dapat mengeluarkan mereka dari lingkaran kemiskinan yang telah lama mengikat
mereka hingga sulit bernapas.
Maka
ia sekuat tenaga mendukung pendidikan Lintang dengan cara-caranya
sendiri,
sejauh kemampuannya. Ketika kelas satu dulu pernah Lintang
menanyakan
kepada ayahnya sebuah persoalan perkerjaan rumah kali-kalian
sederhana
dalam mata pelajaran berhitung.
“Kemarilah
Ayahanda … berapa empat kali empat?”
Ayahnya
yang buta huruf hilir mudik. Memandang jauh ke laut luas melalui
jendela,
lalu ketika Lintang lengah ia diam-diam menyelinap keluar melalui pintu
belakang.
Ia meloncat dari rumah panggungnya dan tanpa diketahui Lintang ia
berlari
sekencang-kencangnya menerabas ilalang. Laki-laki cemara angin itu
berlari
pontangpanting sederas pelanduk untuk minta bantuan orang-orang di 53
kantor
desa. Lalu secepat kilat pula ia menyelinap ke dalam rumah dan tiba-tiba
sudah
berada di depan Lintang.
“Em
… emm… empat belasss … bujangku … tak diragukan lagi empat belasss ..
tak
lebih tak kurang …,” jawab beliau sembari tersengal-sengal kehabisan napas
tapi
juga tersenyum lebar riang gembira. Lintang menatap mata ayahnya dalam-
dalam,
rasa ngilu menyelinap dalam hatinya yang masih belia, rasa ngilu yang
mengikrarkan
nazar aku harus jadi manusia pintar, karena Lintang tahu jawaban
itu
bukan datang dari ayahnya.
Ayahnya
bahkan telah salah mengutip jawaban pegawai kantor desa. Enam
belas,
itulah seharusnya jwabannya, tapi yang diingat ayahnya selalu hanya
angka
empat belas, yaitu jumlah nyawa yang ditanggungnya setiap hari.
Setelah
itu Lintang tak pernah lagi minta bantuan ayahnya. Mereka tak pernah
membahas
kejadian itu. Ayahnya diam-diam maklum dan mendukung Lintang
dengan
cara lain, yakni memberikan padanya sebuah sepeda laki bermerk Rally
Robinson,
made in England. Sepeda laki adalah sebutan orang Melayu untuk
sepeda
yang biasa dipakai kaum lelaki. Berbeda dengan sepeda bini, sepeda
laki
lebih tinggi, ukurannya panjang, sadelnya lebar, keriningannya lebih
maskulin,
dan di bagian tengahnya terdapat batang besi besar yang tersambung
antara
sadel dan setang. Sepeda ini adalah harta warisan keluarga turun-
temurun
dan benda satu-satunya yang paoling berharga di rumah mereka.
Lintang
menaiki sepeda itu dengan terseok-seok. Kakinya yang pendek
menyebabkan
ia tidak bisa duduk di sadel, melainkan di atas batang sepeda,
dengan
ujung-ujung jari kaki menjangkau-jangkau pedal. Ia akan beringsut-
ingsut
dan terlonjak-lonjak hebat di atas batangan besi itu sambil menggigit
bibirnya,
mengumpulkan tenaga. Demikian perjuangannya mengayuh sepeda ke
pulang
dan pergi ke sekolah, delapan puluh kilometer setiap hari.
Ibu
Lintang, seperti halnya Bu Mus dan Sahara adalah seorang N.A. Itu adalah
singkatan
dari Nyi Ayu, yakni sebuah gelar bangsawan kerajaan lama Belitong
khusus
bagi wanita dari ayah seorang K.A. atau Ki Agus. Adat istiadat
menyarankan
agar gelar itu diputus pada seorang wanita sehingga Lintang dan
adik-adik
perempuannya tak menyandang K.A. atau N.A. di depan nama-nama
mereka.
Meskipun begitu, tak jarang pria-pria keturunan N.A. menggunakangelar
K.A.,
dan hal itu bukanlah persoalan karena gelar-gelar itu adalah identitas
kebanggaan
sebagai orang Melayu Belitong asli.
Jika
benar kecerdasan bersifat genetik maka kecerdasan Lintang pasti mengalir
dari
keturunan nenek moyang ibunya. Meskipun buta huruf dan kurang
beruntung
karena waktu kecil terkena polio sehingga salah satu kakinya tak
bertenaga,
tapi ibu Lintang berada dalam garis langsung silsilah K.A.
Cakraningrat
Depati Muhammad Rahat, seseorang bangsawan cerdas anggota
keluarga
Sultan Nangkup. Sultan ini adalah utusan Kerajaan Mataram yang
membangun
keningratan di tanah Belitong. Beliau membentuk pemerintahan dan
menciptakan
klan K.A. dan N.A. itu. Anak cucunya tidak diwarisi 54
kekuasaan
dan kekayaan tapi kebijakan, syariat Islam, dan kecendekiawanan.
Maka
Lintang sesungguhnya adalah pewaris darah orang-orang pintar masa
lampau.
Meskipun
tak bisa membaca, ibu Lintang senang sekali melihat barisan huruf
dan
angka di dalam buku Lintang. Beliau tak peduli, atau tak tahu, jika melihat
sebuah
buku secara terbalik. Di beranda rumahnya beliau merasa takjub
mengamati
rangkaian kata dan terkagum-kagum bagaimana baca-tulis dapat
mengubah
masa depan seseorang.
Beranda
itu sendiri merupakan bagian dari gubuk panggung dengan tiang-tiang
tinggi
untuk berjaga-jaga jika laut pasang hingga meluap jauh ke pesisir. Adapun
gubuk
ini merupakan bagian dari pemukiman komunitas orang Melayu Belitong
yang
hidup di sepanjang pesisir, mengikuti kebiasaan leluhur mereka para
penggawa
dan kerabat kerajaan. Oleh karena itu, dalam lingkungan Lintang
banyak
bersemayam keluargakeluarga K.A. dan N.A.
Gubuk
itu beratap daun sagu dan berdinding lelak dari kulit pohon meranti. Apa
pun
yang dilakukan orang di dalam gubuk itu dapat dilihat dari luar karena
dinding
kulit kayu yang telah berusia puluhan tahun merekah pecah seperti
lumpur
musim kemarau. Ruangan di dalamnya sempit dan berbentuk
memanjang
dengan dua pintu di depan dan belakang. Seluruh pintu dan jendela
tidak
memiliki kunci, jika malam mereka ditutup dengan cara diikatkan pada
kusennya.
Benda di dalma rumah itu ada enam macam: beberapa helai tikar lais
dan
bantal, sajadah dan Al-Qur’an, sebuah lemari kaca kecil yang sudah tidak
ada
lagi kacanya, tungku dan alat-alat dapur, tumpukan cucian, dan enam ekor
kucing
yang dipasangi kelintingan sehinga rumah itu bersuara gemerincing
sepanjang
hari.
Di
luar bangunan sempit memanjang tadi ada semacam pelataran yang
digunakan
oleh empat orang tua untuk menjalin pukat. Bagian ini hanya ditutupi
beberapa
keping papan yang disandarkan saja pada dahan-dahan kapuk yang
menjulur-julur,
bahkan untuk memaku papan-papan itu pun keluarga ini tak
punya
uang. Empat orang tua itu adalah bapak dan ibu dari bapak dan ibu
Lintang.
Semuanya sudah sepuh dan kulit mereka keriput sehingga dapat
dikumpulkan
dan digenggam. Jika tidak sedang menjalin pukat, keempat orang
itu
duduk menekuri sebuah tampah memunguti kutu-kutu dan ulat-ulat lentik di
antara
bulir-bulir beras kelas tiga yang mampu mereka beli, berjam-jam lamanya
karena
demikian banyak kutu dan ulat pada beras buruk itu.
55
Selain
empat orang itu ikut pula dalam keluarga ini dua orang adik laki-laki ayah
Lintang,
yaitu seorang pria muday ang kerjanya hanya melamun saja sepanjang
hari
karena agak terganggu jiwanya dan seorang bujang lapuk yang tak dapat
bekerja
keras karena menderita burut akibat persoalan kandung kemih. Maka
ditambah
lima adik perempuan Lintang, Lintang sendiri, dan kedua orangtuanya,
seluruhnya
berjumlah empat belas orang. Mereka hidup bersama, berdesak-
desakan
di dalam rumah sempit memanjang itu.
Empat
orangtua yang sudah sepuh, dua adik laki-laki yang tak dapat diharapkan,
semua
ini membuat keempat belas itu kelangsungan hidupnya dipanggul sendiri
oleh
ayah Lintang. Setiap hari beliau menunggu tetangganya yang memiliki
perahu
atau juragan pukat harimau memintanya untuk membantu mereka di laut.
Beliau
tidak mendapatkan persentasi dari berapa pun hasil tangkapan, tapi
memperoleh
upah atas kekuatan fisiknya. Beliau adalah orang yang mencari
nafkah
dengan menjual tenaga. Tambahan penghasilan sesekali beliau dapat
dari
Lintang yang sudah bisa menjadi kuli kopra dan anak-anak perempuannya
yang
mengumpulkan kerang saat angin teduh musim selatan.
Lintang
hanya dapat belajar setelah agak larut karena rumahnya gaduh, sulit
menemukan
tempat kosong, dan karena harus berebut lampu minyak. Namun
sekali
ia memegang buku, terbanglah ia meninggalkan gubuk doyong berdinding
kulit
itu. Belajar adalah hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan
kesulitan
hidup. Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya
selalu
memberi kekuatan baru agar ia mampu mengayuh sepeda menantang
angin
setiap hari. Jika berhdapan dengan buku ia akan terisap oleh setiap
kalimat
ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap kata yang diucapkan
oleh
para cerdik cendekia, ia melirik maksud tersembunyi dari sebuah rumus,
sesuatu
yang mungkin tak kasat mata bagi orang lain.
Lalu
pada suatu ketika, saat hari sudah jauh malam, di bawah temaram sinar
lampu
minyak, ditemani deburan ombak pasang, dengan wajah mungil dan
matanya
yang berbinar-biran, jari-jari kurus Lintang membentang lembar demi
lembar
buku lusuh stensilan berjudul Astronomi dan Ilmu Ukur. Dalam sekejap ia
tenggelam
dilamun katakata ajaib pembangkangan Galileo Galilei terhadap
kosmologi
Aristoteles, ia dimabuk rasa takjub pada gagasan gila para astronom
zaman
kuno yang terobsesi ingin mengukur berapa jarak bumi ke Andromeda
dan
nebula-nebula Triangulum. Lintang menahan napas ketika membaca bahwa
gravitasi
dapat membelokkan cahaya saat mempelajari tentang analisis spektral
yang
dikembangkan untuk studi bintang gemintang, dan juga saat tahu
mengenai
teori Edwin Hubble yang menyatakan bahwa alam hidup
mengembang
semakin membesar. Lintang terkesima pada bintang yang mati
jutaan
tahun silam dan ia terkagum-kagum pada pengembaraan benda-benda
langit
di sudut-sudut gelap kosmos yang mungkin hanya pernah dikunjungi oleh
pemikiran-pemikiran
Nicolaus Copernicus dan Isaac Newton.
56
Ketika
sampai pada Bab Ilmu Ukur ia tersenyum riang karena nalarnya demikian
ringan
mengikuti logika matematis pada simulasi ruang berbagai dimensi. Ia
dengan
cepat segera menguasai dekomposisi tetrahedral yang rumit luar biasa,
aksioma
arah, dan teorema Phytagorean. Semua materi ini sangat jauh
melampaui
tingkat usia dan pendidikannya. Ia merenungkan ilmu yang amat
menarik
ini. Ia melamun dalam lingkar temaram lampu minyak. Dan tepat ketika
itu,
dalam kesepian malam yang mencekam, lamunannya sirna karena ia terkejut
menyaksikan
keanehan di atas lembar-lembar buram yang dibacanya. Ia
terheran-heran
menyaksikan angka-angka tua yang samar di lembaran itu
seakan
bergerak-gerak hidup, menggeliat, berkelap-kelip, lalu menjelma menjadi
kunang-kunang
yang ramai beterbangan memasuki pori-pori kepalanya. Ia tak
sadar
bahwa saat itu arwah para pendiri geometri sedang tersenyum padanya
dan
Copernicus serta Lucretius sedang duduk di sisi kiri dan kanannya. Di
sebuah
rumah panggung sempiot, di sebuah keluarga Melayu pedalaman yang
sangat
miskin, nun jauh di pinggir laut, seorang genius alami telah lahir.
Esoknya
di sekolah Lintang heran melihat kami yang kebingungan dengan
persoalan
jurusan tiga angka.
“Apa,
sih yang dipusingkan orang-orang kampung ini dengan arah angin itu?”
Demikian
suara dari dalam hatinya.
Seperti
juga kebodohan yang sering tak disadari, beberapa orang juga tak
menyadari
bahwa dirinya telah terpilih, telah ditakdirkan Tuhan untuk
ditunangkan
dengan ilmu
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments: